Senin, 24 Agustus 2009

Berjuang Dalam Hidup dengan Terang (Tema Bulan Kitab Suci, KAJ, 2009)

Shallom,


Seperti tahun-tahun sebelumnya, Bulan Kitab Suci merupakan suatu kesempatan yang baik untuk menyadari bahwa Kitab Suci merupakan pedoman iman bagi kita. Dan kita patut bersyukur bahwa umat Katolik mulai banyak yang sudah membaca, menghayati, percaya dan mengamalkan Sabda Tuhan dalam Kitab Suci.

Untuk tahun 2009 ini, tema yang diusung oleh KAJ adalah ”Berjuang dalam Hidup dengan Terang Sabda Tuhan”. Hakekat hidup adalah berjuang! Manusia dilahirkan untuk berjuang dalam hidup ini. Ia perlu mencukupi segala kebutuhan, mulai dari sandang pangan dan papan hingga rekreasi dan aktualisasi diri. Semua membutuhkan perjuangan. Tidak ada manusia yang hidup tanpa masalah, namun setiap masalah pasti ada jalan keluarnya dengan mengandalkan kekuatan iman kepada Allah Bapa, bukan dengan kekuatan diri sendiri.

Sebagai umat Katolik kita menyadari tugas dan panggilan kita yaitu: ambil bagian dalam penciptaan dan penyelamatan Allah. Allah menghendaki kita untuk mewartakan kabar gembira bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, artinya Allah sendiri meraja dan menjadi nyata dalam peristiwa Yesus Kristus.

Tema utama dalam Bulan Kitab Suci 2009 ini terdiri dari 4 sub tema sebagai berikut:

(1) Perjuangan Hidup dalam diriku. (Ayub 7:1-10, sebaiknya baca keseluruhan kisah Ayub).

(2) Hidup dalam Keluarga (Tobit 2 : 9-14)

(3) Perjuangan Hidup dalam lingkungan dan masyarakat (Nehemia 6:1-14)

(4) Perjuangan Hidup dalam Berbangsa dan Bernegara (Roma 13 : 1-7)

Sehubungan dengan libur lebaran yang akan dimulai pada minggu ketiga bulan September, dan mengingat kesibukan-kesibukan yang ada menjelang libur lebaran, maka pengurus lingkungan St. maria de Lourdes memutuskan, dalam rapat pengurus pada bulan Juli lalu, bahwa untuk pertemuan-pertemuan pendalaman Kitab Suci pada bulan September ini akan diadakan 2x seminggu pada pukul 20.00 yaitu setiap hari Senin dan Rabu dengan jadwal seperti dibawah ini, sehingga pada tanggal 14 September 2009, seluruh bahan pendalaman Kitab Suci telah dapat terselesaikan dengan baik. Adapun Jadwal, Fasilitator yang bertugas dan tempat pertemuan adalah sebagai berikut:

(1) Rabu, 2 September, dengan fasilitator Ibu Nini, bertempat di rumah Bp. Joseph

(2) Senin, 7 September, dengan fasilitator Ibu Linda, bertempat di rumah Bp. Joni

(3) Rabu, 9 September, dengan fasilitator Bp. Herianto, bertempat di rumah Bp. Jayandi

(4) Senin, 14 September, dengan fasilitator Bp. Aries dan bertempat di rumah Bp. Sutoyo

Mohon partisipasi Bapak dan Ibu warga Lingkungan St. Maria de Lourdes untuk bersama-sama datang dalam pertemuan ini.


Salam Sejahtera,


GP

Kamis, 20 Agustus 2009


diambil dari: http://yesaya.indocell.net/id903.htm

Pada akhir 1800-an, Paus Leo XIII (wafat 1903) mendapat penglihatan yang menubuatkan datangnya abad penderitaan dan perang. Usai mempersembahkan Misa Kudus, Bapa Suci sedang bercakap-cakap dengan para kardinal, ketika tiba-tiba beliau jatuh tak sadarkan diri. Segera para kardinal memanggil dokter. Denyut nadi Bapa Suci tak dapat dideteksi; orang takut kalau-kalau Bapa Suci telah berpulang. Sekonyong-konyong, Paus Leo bangun dan mengatakan, “Betapa aku diperkenankan melihat suatu penglihatan yang amat mengerikan!” Dalam penglihatan tersebut, Tuhan mengijinkan setan memilih suatu abad di mana ia boleh melancarkan serangan-serangannya yang paling dahsyat melawan Gereja. Iblis memilih abad ke-20. Bapa Suci begitu tergerak hatinya oleh penglihatan ini hingga beliau menyusun suatu doa kepada Malaikat Agung St Mikhael,

“Malaikat Agung St. Mikhael, belalah kami dalam peperangan. Jadilah pelindung kami dalam melawan segala kejahatan dan jebakan setan. Kami mohon dengan rendah hati agar Allah menaklukkannya, dan engkau, O panglima balatentara surgawi, dengan kuasa Ilahi, usirlah ke neraka setan dan semua roh jahat yang berkeliaran di seluruh dunia yang hendak menghancurkan jiwa-jiwa. Amin.”

Pada tahun 1886, Paus Leo menginstruksikan agar doa ini didaraskan pada akhir Misa. (Ketika Paus Paulus VI menerbitkan “Novus Ordo” Misa pada tahun 1968, Doa kepada St Mikhael dan pembacaan “injil terakhir” pada akhir Misa dihapuskan.)

... namun demikian

Pada musim semi tahun 1994, Bapa Suci Yohanes Paulus II mendorong umat beriman untuk mendaraskan Doa kepada Malaikat Agung St Mikhael. Beliau juga mendesak demi dipraktekkannya kembali pendarasan doa tersebut dalam Misa Kudus. (Harap diperhatikan bahwa Bapa Suci tidak mengamanatkan pendarasan doa tersebut dalam Misa.)

Jelas, Bapa Suci bermaksud menanggapi kejahatan-kejahatan hebat yang kita lihat terjadi di dunia kita ini - dosa-dosa aborsi, eutanasia, pornografi, percabulan, penyiksaan anak, terorisme, pembantaian bangsa-bangsa tertentu dan lain sebagainya. Tak diragukan lagi, setan dan para malaikat lainnya yang memberontak sedang melakukan yang terbaik guna menjerumuskan jiwa-jiwa ke dalam neraka. Kita membutuhkan pertolongan St Mikhael.

Maka terakhir, saya hendak mengatakan...mari sesudah misa kita mendaraskan doa ini:

“Malaikat Agung St. Mikhael, belalah kami dalam peperangan. Jadilah pelindung kami dalam melawan segala kejahatan dan jebakan setan. Kami mohon dengan rendah hati agar Allah menaklukkannya, dan engkau, O panglima balatentara surgawi, dengan kuasa Ilahi, usirlah ke neraka setan dan semua roh jahat yang berkeliaran di seluruh dunia yang hendak menghancurkan jiwa-jiwa. Amin.”

atau

SANCTE Míchael Archángele, defénde nos in prœlio, contra nequítiam et insídias diáboli esto præsídium. Imperet illi Deus, súpplices deprecámur: tuque, Princeps milítiæ cæléstis, Sátanam aliósque spíritus malígnos, qui ad perditiónem animárum pervagántur in mundo, divína virtúte, in inférnum detrúde. Amen

atau

HOLY Michael Archangel, defend us in the day of battle; be our safeguard against the wickedness and snares of the devil.—May God rebuke him, we humbly pray: and do thou, Prince of the heavenly host, by the power of God thrust down to hell Satan and all wicked spirits, who wander through the world for the ruin of souls. Amen

semoga Gereja dan dunia menjadi lebih baik..... St. Michael, doakanlah kami


WARTA LINGKUNGAN


1. Koor Gabungan MDL dan MDF

Koor Gabungan MDL dan MDF diadakan dengan jadwal sbb:

  • Hari/Waktu : Setiap Selasa. Pukul 20.00 (Tepat)
  • Tempat : Rmh Ibu Meiliana ~ Intan 1 No. 15

Masih dibutuhan bantuan umat untuk menjadi peserta koor dan pemain keyboard.

Jadwal tugas koor MDL dan MDF :

  • 30 Agustus 2009, 27 September 2009.

Untuk mengetahui informasi selengkapnya dapat menghubungi :

  • Pak Jayandi ~ Intan 2 No.26 ( Telp. 5396875 – 08129557885)

2. Kegiatan Lingkungan MDL

BULAN SEPTEMBER

Bulan September yang merupakan bulan Kitab Suci maka akan diadakan Pendalaman Kitab Suci sebanyak empat kali dengan jadwal : Tanggal 2 , 7, 9, 14.

Jadwal selengkapnya akan diedarkan akhir Agustus 2009.

BULAN OKTOBER

Bulan Oktober yang merupakan bulan Rosario maka akan dilaksanakan Doa Rosario selama 9 hari berturut-turut dari tanggal 23 – 31 Oktober 2009. Direncanakan penutupan rosario akan ziarek ke Subang.

Jadwal selengkapnya akan diedarkan awal Oktober 2009.

3. Iuran Lingkungan

Pembayaran Iuran Lingkungan dapat diserahkan langsung kepada bendahara lingkungan : Ibu Liena ~ Intan 5 No. 5

4. Tugas Tata Laksana

Lingkungan MDL mendapat tugas tata laksana di gereja St. Laurensius pada tanggal 3 Oktober 2009. Dimohon bantuan Bapak/Ibu/Remaja untuk membantu tugas tata laksana.

5. Lomba Perkusi MDL dan MDF

Diinformasikan bahwa anak-anak MDL dan MDF yang ikut team perkusi telah menjadi juara pertama porseni tingkat Tangerang dan akan bertanding di KAJ pada tanggal 23 Agustus 2009. Mohon doa dan dukungan umat.

6. WKRI ranting Santa Bernadette

Telah terbentuk WK ranting Bernadette, bagi warga yang mau menjadi anggota dapat menghubungi :

Ketua WK : * Ibu Arthya ~ Intan 1 No. 30 (Telp.53121499)

Ketua Lingkungan MDL : * Bpk. Gunawan ~ Intan 7 No. 6

Salam Sejahtera,

Gunawan HP

Ketua Lingkungan

Selasa, 11 Agustus 2009

St. Laurensius (10 Agustus 2009)




"Tuan, inilah harta karun Gereja."



Jika kita sedang merasa uring-uringan terhadap sesuatu yang mengganggu kita, baiklah kita mohon bantuan St. Laurensius agar ia mendoakan kita dan membantu kita agar tetap sabar dalam menanggung pencobaan. Siapakah St. Laurensius?

Laurensius hidup pada abad ketiga. Ia adalah salah seorang dari ketujuh Diakon Roma di bawah Paus St. Sixtus II. Mereka bertugas untuk memberikan bantuan kepada fakir miskin. Pada masa itu, umat Kristiani mengalami penganiayaan hebat dalam pemerintahan Kaisar Valerian. Kaisar memerintahkan agar Paus St. Sixtus II beserta keenam diakon lainnya dijatuhi hukuman penggal, sehingga tinggallah Laurensius seorang diri. Sementara Paus digiring ke tempat hukuman mati, Laurensius mengikutinya sambil menangis, “Bapa, mengapa engkau pergi meninggalkan aku?” Paus menjawabnya, “Aku tidak meninggalkan engkau, anakku. Tiga hari lagi engkau akan bersamaku.”

Laurensius amat gembira karena ia juga akan diperbolehkan menerima piala kemartiran. Laurensius membagi-bagikan semua uang yang masih ada padanya kepada mereka yang membutuhkan. Ia bahkan juga menjual bejana-bejana berharga milik Gereja dan membagikan uangnya kepada mereka yang miskin papa.

Cornelius Saecularis, yang pada waktu itu menjabat sebagai penguasa Roma, mengira bahwa Gereja menyimpan suatu harta karun yang tersembunyi. Maka Cornelius memanggil Laurensius dan berkata kepadanya, “Aku tahu bahwa menurut ajaran kalian, kalian harus menyerahkan kepada kaisar segala milik kaisar. Allah-mu tidak membawa uang ke dunia ketika Ia datang, Ia hanya membawa ajaran-Nya. Jadi, berikanlah uangnya kepada kami, kalian boleh menyimpan ajaran-Nya.” Cornelius juga berjanji akan membebaskan Laurensius jika saja ia mau menyerahkan seluruh kekayaan Gereja kepada kaisar. Laurensius menyanggupi permintaan Cornelius. Ia minta diberi waktu tiga hari untuk mengumpulkan seluruh harta Gereja.

Maka, pergilah Laurensius menjelajahi kota selama tiga hari untuk mengumpulkan orang-orang yang sakit, fakir miskin, jompo, janda serta para yatim piatu. Pada hari yang ketiga ia membawa mereka semua ke hadapan penguasa Roma, katanya, “Tuan, inilah harta karun Gereja!”

Penguasa Roma itu menjadi sangat murka. Dalam amarahnya ia memerintahkan agar Laurensius dijatuhi hukuman mati secara perlahan dan kejam. Laurensius diikatkan pada panggangan besi raksasa yang dipanaskan di atas api yang kecil sehingga api memanggang daging tubuhnya secara perlahan-lahan. Laurensius memang terbakar, tetapi bukan oleh api, melainkan oleh rasa cinta yang amat mendalam kepada Tuhan. Oleh karena itu, Laurensius menjalani siksaannya dengan ketabahan yang mengagumkan. Tuhan juga memberinya kekuatan dan sukacita yang luar biasa, hingga Laurensius masih sempat bercanda, “Balikkan tubuhku,” katanya kepada algojo, “yang sebelah sini sudah matang!”

Kemudian, ”Ya, sudah cukup matang sekarang!” Sementara Laurensius terbaring sekarat, wajahnya memancarkan sinar surgawi. Laurensius berdoa agar penduduk kota Roma bertobat dan berbalik kepada Yesus dan semoga iman Katolik menyebar ke seluruh dunia. Usai mengucapkan doanya, Laurensius pergi menjumpai Yesus, Paus Sixtus dan semua para kudus di surga.

Keberanian serta ketabahan Laurensius menyentuh banyak orang sehingga banyak penduduk Roma yang akhirnya bertobat. St. Laurensius wafat pada tanggal 10 Agustus tahun 258. Pestanya dirayakan setiap tanggal 10 Agustus. Demi menghormatinya, Kaisar Konstantinus membangun sebuah basilika yang indah. Nama St Laurensius ada di antara para kudus Dalam Doa Syukur Agung Pertama dalam Misa.


"Yesus, tolonglah aku untuk mengasihi semua anggota keluargaku setiap hari, sehingga aku dapat mengasihi keluarga-Mu, yaitu Gereja! Amin.


“disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”







-- Post From My iPhone

Jumat, 07 Agustus 2009

Friday 7 August 2009

Friday of week 18 of the year
or Saints Sixtus II, Pope, and his Companions, Martyrs
or Saint Cajetan, Priest

About Today


Pope St Sixtus II and his companions

Pope Sixtus II or Pope Saint Sixtus II was pope from August 30, 257 to August 6, 258. He died as a martyr during the persecution by Emperor Valerian.

According to the Liber Pontificalis, he was Greek by birth; however this is uncertain and disputed by modern western historians arguing that the authors of Liber Pontificalis confused him with that of the contemporary author Xystus who was Greek student of Pythagoreanism. He restored the relations with the African and Eastern Orthodox churches which had been broken off by his predecessor on the question of heretical baptism.

In the persecutions under Emperor Valerian I in 258, numerous bishops, priests, and deacons were put to death. Pope Sixtus II was one of the first victims of this persecution, being beheaded on August 6. He was martyred along with six deacons—Januarius, Vincentius, Magnus, Stephanus, Felicissimus and Agapitus. He and his companion-martyrs are commemorated with an optional memorial on 7 August. St Laurence, another deacon, was captured and executed four days later.

St Cajetan (1480 - 1547)







He was born in Vicenza and became a priest at the age of 36. He worked hard for the poor and the sick and for the reform of the Church; with this last aim in mind, he founded a congregation of secular priests which became known as the Theatines. These had three functions: preaching, the administration of the sacraments, and the celebration of the liturgy.
He encouraged the growth of pawn-shops as a means of helping the poor out of temporary financial difficulties and keeping them out of the hands of usurers. His congregation also cared for incurable syphilitics (a particularly virulent form of syphilis was sweeping Europe, having been imported from the Caribbean by Columbus’s men).
His example encouraged many others on the path to active sanctity. He said [in a letter to Elisabeth Porto]: “Do not receive Christ in the Blessed Sacrament so that you may use him as you judge best, but give yourself to him and let him receive you in this Sacrament, so that he himself, God your saviour, may do to you and through you whatever he wills.”





-- Post From My iPhone

Kamis, 06 Agustus 2009

Doa Hari Kamis, 6 Agustus 2009




Bapa Surgawi,

kirimkanlah RohMu untuk menerangi pikiranku,
untuk mengenal hal yang benar dan hal yang salah.
Bantulah aku menyadari jika ada kebohongan
dan bantulah pula aku mengenal kebohongan
yang kulakukan terhadap diriku sendiri.

Engkau selalu berbicara yang sebenarnya
dan Engkau menyatakan manakah yang benar
dan manakah yang salah.
Saat dunia menyatakan sebuah gaya hidup
atau sistim kepercayaan sebagai sesuatu yang baik,
dan Engkau menyatakannya sebagai sesuatu yang jahat,
bantulah agar aku dapat tetap bertahan
di atas kebenaranMu yang suci
yang kutemukan di dalam Kitab Suci.

Anugrahkanlah aku pendirian yang kuat
walaupun tak ada orang yang setuju denganku.
Kebenaran menurut dunia ini
dapat berubah sesuai arah angin
namun Kebenaran dariMu adalah kekal selama - lamanya,
dan aku bertekad akan selalu berpegang
kepada kebenaranMu ya Bapa.

Hanya kepadaMu ya Bapa Surgawi,
Allah yang kekal, aku berdoa.

Amin.





-- Post From My iPhone

Selasa, 04 Agustus 2009

August 4 - The Day of St. Jean-Baptiste Vianney


St Jean-Baptiste Vianney, Curé of Ars (1786 - 1859)




He was the son of a peasant farmer, and a slow and unpromising candidate for the priesthood: he was eventually ordained on account of his devoutness rather than any achievement or promise.
In 1818 he was sent to be the parish priest of Ars-en-Dombes, an isolated village some distance from Lyon, and remained there for the rest of his life because his parishioners would not let him leave. He was a noted preacher, and a celebrated confessor: such was his fame, and his reputation for insight into his penitents’ souls and their futures, that he had to spend up to eighteen hours a day in the confessional, so great was the demand. The tens of thousands of people who came to visit this obscure parish priest turned Ars into a place of pilgrimage.
The French State recognised his eminence by awarding him the medal of the Légion d’Honneur in 1848, and he sold it and gave the money to the poor.




-- Post From My iPhone