Selasa, 16 Februari 2010














APP 2010: "Mari Bekerjasama Memerangi Kemiskinan"

Sebelum diputuskan, tema APP tahun 2010 tersebut dibahas sebagai salah satu agenda Raker oleh seluruh wakil Komisi-komisi dan Pemikat KAJ bersama Bapak Uskup dan para staf beliau dalam kelompok-kelompok diskusi.


Pembahasan Tema

Dalam pembahasan diskusi kelompok, para peserta Raker mencermati kerangka gagasan dasar dan sejumlah "kata kunci" rumusan tema seperti "kerja sama", "kebaikan bersama" atau "bonum commune", "kesejahteraan bersama" dan "habitus". Menurut sejumlah peserta Raker, "kebaikan bersama" atau "bonum commune" dan "kesejahteraan bersama" mengandung makna yang luhur dan mendalam, namun masih terlalu luas atau kurang terfokus pada agenda perubahan apa yang ingin diperjuangkan Gereja KAJ secara konkret di tengah masyarakat.

"Kalau kita sedikit flash back, tema-tema APP terdahulu lebih menggugah, misalnya Adilkah Aku?, Korupsikah Aku?, Mari Bertanggungjawab. Maka, tema APP 2010 seputar kerjasama untuk kesejahteraan bersama perlu dirumuskan lebih menggugah," usul Paulus Krissantono, Ketua Komisi Kerasulan Awam KAJ. Sedangkan Pst. Ignas Tari, MSF, Ketua Komisi Kerasulan Keluarga KAJ, mengusulkan "Rumusan tema ... kalau bisa ... yang mudah diingat orang dan juga menggugah."

Sementara itu, Pst. Yohanes Subagyo Pr, Vikaris Jenderal KAJ, mengusulkan agar perumusan tema sekaligus memperjelas sasaran gerakan APP itu sendiri. "Soal kesejahteraan umum, kebaikan bersama, bonum commune ... sebenarnya apa yang ingin dituju? Kita perlu memperjelas sasaran yang lebih terukur dan memiliki indikasi yang jelas," katanya.

Fokus tema menjadi semakin jelas ketika pembahasan tema dilakukan dalam diskusi kelompok. Pst. Purbo Tamtomo Pr, Sekretaris Keuskupan, mewakili kelompok pembahas yang dilibatinya, mengusulkan masalah kemiskinan dimasukkan dalam rumusan tema sebagai sasaran gerakan kerjasama. "Target yang ingin kita bawa setiap tahun adalah membangun kerjasama, tapi fokus pertama (di tahun 2010) adalah memerangi kemiskinan," jelasnya.


Tema yang Berkelanjutan

Dalam perumusan tema APP tahun 2010 tersebut, Bapak Uskup mencermati proses dan hasil diskusi kelompok-kelompok pembahas. Menurut beliau, selama ini selalu ada tema APP yang baru untuk tahun baru, padahal pergantian tema baru semacam itu tidak perlu. "Kalau (masalah) yang ingin diperangi sulit sekali (diselesaikan), temanya harus (dipertahankan) terus menerus, tak usah diubah," jelas beliau.

Bapak Uskup setuju dengan usulan satu tema untuk geraakan APP dalam beberapa tahun. Hanya saja, bahan-bahan sosialisasi dan pendalamannya perlu diremajakan dengan dasar yang lebih luas. "Tapi temanya adalah tetap, Mari Bekerjasama Memerangi Kemiskinan," tegas beliau.


Gerakan "ke Dalam" dan "ke Luar"

Selain memutuskan rumusan tema APP tahun 2010, Bapak Uskup juga mengajak seluruh peserta Raker untuk menggiatkan kerja sama memerangi kemiskinan dalam dua gerakan, yakni "ke dalam" dan "ke luar".

Gerakan "ke dalam" berarti menggerakkan umat Gereja KAJ untuk melaksanakan tema tersebut. "Misalnya keluarga Katolik diajak untuk berefleksi ... bagaimana meningkatkan kemampuan diri (anggota keluarga) sebagai orang yang masih bisa bekerja untuk memberdayakan dirinya. Bagaimana dalam keluarga (terjadi upaya) saling memberdayakan untuk meningkatkan kesejahteraan (misalnya) memikirkan bagaimana menanam buah dan sayuran, memelihara ayam. Supaya ada kemampuan keluarga untuk bekerjasama, dalam arti (anggota keluarga) yang satu sedang keluar mencari rejeki yang tak banyak, (anggota keluarga) yang di rumah harus juga bekerja. Laki-laki atau perempuan harus bekerjasama memerangi kemiskinan dalam keluarganya sendiri," jelas Bapak Uskup.

Sedangkan "gerakan ke luar" berarti memperhatikan orang-orang miskin no-Katolik dan mengajak mereka bekerjasama meningkatkan kemampuan memerangi kemiskinan. "Sebagai gembala yang baik, kita harus mencari orang yang miskin dan termiskin. Sebagai contoh, sekarang ini sedang ingin diberdayakan lahan kosong di Pamulang untuk (dimanfaatkan) kaum buruh yang ingin mencari nafkah. Masih banyak lahan kosong yang bisa dimanfaatkan," jelas beliau. [Felix Iwan Wijayanto]


sumber: www.kaj.or.id