Senin, 07 Maret 2011

PETUNJUK UMUM BAGI UMAT KATOLIK SELAMA MASA PRAPASKAH

SENIN, 07 MARET 2011

PETUNJUK UMUM BAGI UMAT KATOLIK SELAMA MASA PRAPASKAH
(Dapat dipergunakan sebagai Bahan Tambahan Katekese atau dapat dijadikan petunjuk praktis dalammempersiapkan Prapaskah bagi para pemimpin komunitas/lingkungan).

Masa Prapaskah dimulai dengan perayaan Rabu Abu di Gereja. Dengan menerima abu, setiap umat beriman diingatkan untuk kembali kepada Tuhan. “Kamu berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu.” (Kej 2:7). Forma inimengingatkan kita akan kematian dan/atau kedatangan Tuhan yang dapat terjadi sewaktu-waktu seumpama pencuri di waktu malam, oleh karena itu diperlukan sikap berjaga-jaga dan bertobat: “Bertobatlah dan percayalah pada Injil.” Abu merupakan tanda yang mengingatkan kepada kita bahwa kita berasal dari debu tanah dan akan kembali ke abu/ debu tanah. Kita ketahui bahwa manusia pertama diciptakan Allah dari debu tanah dan semua manusia akan meninggal, dan tubuhnya akan kembali terurai menjadi debu tanah. Pada saat kita menerima tanda salib dari abu di dahi kita pada hari Rabu Abu, kita diingatkan bahwa suatu saat nanti kita akan kembali ke tanah, yaitu bahwa hidup kita di dunia ini adalah sementara. Maka kita diajak untuk mengarahkan hati kepada Allah yang menciptakan kita, sebab Dia berada di atas kita dan segala kesenangan dunia sifatnya sementara.

Masa Prapaskah mempunyai dua ciri khas yaitu mengenangkan atau mempersiapkan pembaptisan dan membina pertobatan. Warna Liturgi secara Umum adalah Ungu: lambang pertobatan, kecuali Tri Hari Suci atau Perayaan Wajib Selama Masa Prapaskah. 

Pada tahun 2011 ini, Hari Rabu Abu diperingati pada tanggal 9 Maret 2011, di setiap Gereja Katolik akan dilaksanakan Ekaristi Rabu Abu beberapa kali untuk menerimakan abu kepada Umat. Masa Prapaskah akan dilaksanakan selama 40 hari (di luar hari Minggu, yang dipandang sebagai Hari Tuhan) mulai tanggal 9 Maret 2011 sampai dengan Hari Sabtu Vigili tgl. 23 April 2011. 
Angka 40 (hari) diperoleh dari beberapa referensi dari Alkitab, yaitu: hujan selama 40 hari pada jaman Nabi Nuh sebelum Tuhan membuat perjanjian pada keluarga Nuh dan keturunannya (Kej 7:4); selama 40 hari Musa berada di puncak gunung Sinai sebelum menerima kesepuluh perintah Allah yang menjadi tanda Perjanjian Lama dengan umat Israel (Kel 24:18); perjalanan bangsa Israel menuju Tanah Terjanji selama 40 tahun (Bil 14:33). Kesemuanya menandai masa pertobatan menuju suatu ‘kelahiran’ baru. Dalam Injil kitapun membaca bagaimana Yesus berpuasa 40 hari sebelum memulai pelayanan-Nya memberitakan kabar keselamatan (Mat 4:1-2; Mrk 1:12-13; Luk 4:1-2).

St. Leo (461) adalah Bapa Gereja yang menyatakan bahwa tradisi berpuasa selama 40 hari ini merupakan tradisi dari para rasul dan ahli sejarah Socrates (433) dan St. Hieronimus Agung (420) juga mengatakan hal serupa.

Dalam semangat pertobatan itulah ada beberapa hal yang harus diperhatikan selama masa Prapaskah sebagai berikut :

1. MASA PRAPASKAH adalah MASA RETRET AGUNG UMAT
Masa Prapaskah sering disebut sebagai Retret Agung Umat, maka dalam masa Prapaskah umat diharapkan mendalami iman, pribadi maupun dalam komunitas, serta membiasakan diri dengan doa/renungan serta ibadat yang lebih intens.

Masa pembinaan pertobatan dan penerimaan kembali mereka yang telah berdosa berat. Mereka yang terkena ekskomunikasi dibina untuk dibimbing kembali ke pangkuan Gereja. Paroki perlu mempersiapkan seorang yang khusus yang bijaksana dan berpengalaman dalam mendampingi para petobat yang hendak kembali dan akan diterima kembali dalam Gereja Katolik.
Penerimaan Sakramen Tobat bagi umat biasanya dilaksanakan sebelum Pekan Suci. Dianjurkan penerimaan Sakramen Tobat juga diadakan di lingkungan-lingkungan untuk melayani mereka yang sakit, lanjut usia atau yang cacat. Untuk hal ini perlu koordinasi antara Pastor Paroki setempat dan ketua lingkungan setempat untuk mempersiapkan tempat dengan memperhatikan situasi dan kondisi umat lingkungan.

Cara-cara mendekatkan diri pada Tuhan selama Masa Retret Agung Umat ini dapat pula dilaksanakan dengan menyangkal diri dengan membiasakan diri melakukan hal-hal baik, misalnya: Mengikuti Misa Harian (di samping Misa hari Minggu, tentu saja). Menyangkal kemalasan bangun pagi dan mengikuti Misa dan menyambut Kristus dalam Ekaristi adalah bukti yang nyata bahwa kita sungguh menghargai apa yang telah dilakukan-Nya bagi kita di kayu salib demi keselamatan kita. Dapat pula meluangkan waktu untuk doa Adorasi, di hadapan Sakramen Maha Kudus, atau kita dapat mulai berdoa Rosario setiap hari. Atau mulai dengan setia meluangkan waktu untuk merenungkan Kitab Suci atau mempelajari Katekismus Gereja Katolik.

Diadakan pertemuan-pertemuan untuk sharing iman / ibadat / pendalaman iman di lingkungan setepat sejalan dengan tema yang telah ditetapkan oleh masing-masing keuskupan. Untuk Keuskupan Agung Jakarta telah ditetapkan tema APP Tahun 2011: “Mari Berbagi”, yang dijabarkan dalam 4 sub tema :
- Aku Diberi maka Aku Memberi
- Berbagi dalam Kekurangan
- Ekaristi Sumber Berbagi
- Komunitas Kristiani: Komunitas yang berbagi

2. PUASA DAN PANTANG sebagai bentuk MATI RAGA
Pertama-tama perlu diketahui alasan mengapa kita berpuasa dan berpantang. Bagi kita orang Katolik, puasa dan pantang adalah tanda pertobatan, tanda penyangkalan diri, dan tanda kita mempersatukan sedikit pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai silih dosa kita dan demi mendoakan keselamatan dunia. Jadi puasa dan pantang bagi kita tak pernah terlepas dari doa. Dalam masa prapaska, maka puasa, pantang dan doa disertai juga dengan perbuatan amal kasih bersama-sama dengan anggota Gereja yang lain. Dengan demikian, pantang dan puasa bagi kita orang Katolik merupakan latihan rohani yang mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama, dan bukan untuk hal lain, seperti diit/ supaya kurus, menghemat, dll. Dengan mendekatkan dan menyatukan diri dengan Tuhan, maka kehendak-Nya menjadi kehendak kita. Kita pun dapat mulai mendoakan keselamatan dunia dengan mulai mendoakan bagi keselamatan orang-orang yang terdekat dengan kita: orang tua, suami/ istri, anak-anak, saudara, teman, dan juga kepada para imam, pemimpin Gereja, pemimpin negara, dst.
Pantang dan Puasa bukanlah alasan untuk malas atau segan untuk melakukan karya amal dan kebaikan bagi sesama. Justru pantang dan puasa seharusnya mengobarkan semangat untuk mulai peduli pada sesama, bekerja lebih giat dan rajin tanpa pamrih, tidak mudah mengeluh, tidak mudah putus asa, lebih memperhatikan tetangga/ kerabat yang kesusahan, menghibur mereka yang sedang sakit/ terkena musibah, semua hal ini juga dapat dilakukan. Selalu ada yang dapat kita lakukan sebagai bentuk pertobatan, (dan tidak terbatas pada tidak makan daging dan ikan), dan inilah esensi dari Masa Prapaska.
Makna berpuasa dan berpantang : Secara kejiwaan, berpuasa memurnikan hati orang dan mempermudah pemusatan perhatian waktu bersemadi dan berdoa. Puasa juga dapat merupakan korban atau persembahan. Puasa pantas disebut doa dengan tubuh, karena dengan berpuasa orang menata hidup dan tingkah laku rohaninya. Dengan berpuasa, orang mengungkapkan rasa lapar akan Tuhan dan kehendakNya. Ia mengorbankan kesenangan dan keuntungan sesaat, dengan penuh syukur atas kelimpahan karunia Tuhan. Demikian, orang mengurangi keserakahan dan mewujudkan penyesalan atas dosa-dosanya di masa lampau. Dengan berpuasa, orang menemukan diri yang sebenarnya untuk membangun pribadi yang selaras. Puasa membebaskan diri dari ketergantungan jasmani dan ketidakseimbangan emosi. Puasa membantu orang untuk mengarahkan diri kepada sesama dan kepada Tuhan.
Hari Puasa dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama Masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.
Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berusia 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berusia genap 14 tahun ke atas.
Puasa (dalam arti yuridis) berarti makan kenyang hanya satu sehari, penulis menganjurkan makan kenyang pada waktu pagi atau siang hari, agar makanan dapat diolah menjadi tenaga untuk memenuhi aktifitas harian kita. Pantang (dalam arti yuridis) berarti memilih pantang daging, atau ikan atau garam, atau jajan atau rokok.
Karena begitu ringannya, kewajiban berpuasa dan berpantang, sesuai dengan semangat tobat yang hendak dibangun, umat beriman, baik secara pribadi, keluarga, atau pun kelompok, dianjurkan untuk menetapkan cara berpuasa dan berpantang yang lebih berat. Bila dikehendaki masih bisa menambah sendiri puasa dan pantang secara pribadi, tanpa dibebani dengan dosa bila melanggarnya. Artinya setiap orang Katolik sangat dianjurkan untuk memilih wujud pantangnya yang lebih tepat dan bermanfaat untuk membangun sikap tobat yang berguna untuk pengembangan imannya. Dengan demikian kita dijauhkan dari semangat legalistis dan minimalistis, dan dengan kesadaran pribadi berusaha mewujudkan hidup pertobatan kita, serta mengarahkan diri menuju hidup seorang beriman yang lebih berkualitas.
Pantang tidak terbatas hanya makanan, namun pantang makanan dapat dianggap sebagai hal yang paling mendasar dan dapat dilakukan oleh semua orang. Namun jika satu dan lain hal tidak dapat dilakukan, terdapat pilihan lain, seperti pantang kebiasaan yang paling mengikat, seperti pantang nonton TV, pantang ’shopping’, pantang ke bioskop, pantang ‘gossip’, pantang main ‘game’ dll. Jika memungkinkan tentu kita dapat melakukan gabungan antara pantang makanan/ minuman dan pantang kebiasaan ini.
Waktu berpuasa, kita makan kenyang satu kali, dapat dipilih sendiri pagi, siang atau malam. Harap dibedakan makan kenyang dengan makan sekenyang-kenyangnya. Karena maksud berpantang juga adalah untuk melatih pengendalian diri, maka jika kita berbuka puasa/ pada saat makan kenyang, kita juga tetap makan seperti biasa, tidak berlebihan. Juga makan kenyang satu kali sehari bukan berarti kita boleh makan snack/ cemilan berkali-kali sehari. Ingatlah tolok ukurnya adalah pengendalian diri dan keinginan untuk turut merasakan sedikit penderitaan Yesus, dan mempersatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib demi keselamatan dunia.
Maka pada saat kita berpuasa, kita dapat mendoakan untuk pertobatan seseorang, atau mohon pengampunan atas dosa kita. Doa-doa seperti inilah yang sebaiknya mendahului puasa, kita ucapkan di tengah-tengah kita berpuasa, terutama saat kita merasa haus/ lapar, dan doa ini pula yang menutup puasa kita/ sesaat sebelum kita makan. Di sela-sela kesibukan sehari-hari kita dapat mengucapkan doa sederhana, “Ampunilah aku, ya Tuhan. Aku mengasihi-Mu, Tuhan Yesus. Mohon selamatkanlah …..” (sebutkan nama orang yang kita kasihi)

3. PENYISIHAN DERMA dalam KOTAK APP (Aksi Puasa Pembangunan) 
Sejalan dengan semangat makna Masa Prapaskah ialah bermatiraga dalam rangak pertobatan yang diwujudnyatakan dalam semangat doa dan kepedulian pada sesama, maka dalam Masa Prapaskah dibagikan kotak APP untuk menunjukkan kepedulian kepada sesama. Kotak APP akan didistribusikan melalui ketua lingkungan masing-masing, atau melalui kelompok-kelompok kategorial atau komunitas-komunitas yang lain, misalnya sekolah, bina iman, kelompok katekumen dan lain-lain.
Kotak APP dapat diperoleh untuk setiap keluarga (1 kotak untuk tiap keluarga) atau dapat juga perorangan (1 kotak APP untuk setiap orang), semuanya tergantung dari besarnya semangat berkorban, semangat berbagi dalam menjalankan APP dalam keluarga atau pribadi masing-masing. Bila kotak APP sudah penuh sementara masa Prapaskah masih berjalan dan dibutuhkan kotak APP lagi, silahkan menghubungi ketua lingkungan setempat atau pemimpin komunitas/kelompok ketegorial yang bersangkutan. Para ketua lingkungan harus dengan bijaksana memenuhi kebutuhan umat akan Kotak APP.
Cara pengisian Kotak APP yang benar adalah dengan menyisihkan uang hasil dari berpantang dan berpuasa. Misalnya: bagi yang berpantang rokok, pada hari berpantang uang yang sedianya dipergunaka untuk membeli rokok maka dalam hari berpantang uang tersebut dimasukkan ke dalam kotak APP, atau misalnya dalam keluarga memutuskan makan daging, karena hari berpantang, maka uang belanja pastinya ada kelebihan karena tidak membeli daging, kelebihan inilah yang dimasukkan ke dalam Kotak APP. Para orangtua, guru, ketua lingkungan dan ketua komunitas harus memberikan penjelasan yang baik kepada anak-anak sehubungan dengan pengumpulan dana APP dalam kotak APP. Saya pribadi yakin anak-anak memiliki ketulusan dan semangat berbagi yang lebih besar bila diberi pengertian untuk menyisihkan uang jajan atau uang saku selama masa Prapaskah ini.
Kotak APP akan dikumpulkan di akhir Masa Prapaskah, atau di awal Masa Paskah, tergantung kebijaksanaan masing-masing Paroki, untuk nantinya Dana APP dari seluruh paroki dikumpulkan ke Keuskupan, untuk dipergunakan bagi pelayanan warga miskin dan/atau pengembangan umat basis.

4. AMAL DAN KARYA SOSIAL selama MASA PRAPASKAH

Dengan merenungkan sengsara Tuhan Yesus, maka kita diajak untuk lebih peka terhadap kebutuhan sesama, dalam hal ini semangat berbagi kepada yang miskin sangat dianjurkan untuk menjadi kegiatan prbadi atau kelompok. Pertama-tama memang harus mengevaluasi sikap pribadi kita kepada yang paling dekat misalnya pembantu rumah tangga dan supir. Kepedulian kepada sesama dapat pula diwujudkan dengan membagikan rejeki kita kepada orang miskin secara pribadi. Kegiatan amal pribadi ini sangat baik bila dilakukan tanpa diketahui oleh orang lain. Sabda Yesus dapat menjadi pedoman di sini: “Apa yang diperbuat oleh tangan kananmu janganlah diketahui oleh tangan kirimu.” Juga kutipan dari Nabi Yesaya tentang Kesalehan yang sejati dapat menjadi pedoman : “
Secara komunitas, kegiatan amal dan karya sosial kepada orang miskin sangat dianjurkan pada masa Prapaskah. Misalnya sebuah komunitas atau lingkungan melakukan karya sosial kepada yang miskin dalam Masa Prapaskah ini.
Banyak sekali sesungguhnya yang dapat kita lakukan, jika kita sungguh ingin bertumbuh di dalam iman. Namun seungguhnya, mulailah saja dengan langkah kecil dan sederhana. St. Theresia dari Liseux pernah mengatakan tipsnya, yaitu, “Lakukanlah perbuatan-perbuatan yang kecil dan sederhana, namun dengan kasih yang besar.”

5. IBADAT JALAN SALIB selama MASA PRAPASKAH
Jalan Salib disusun berdasarkan meditasi St. Bernard, St. Fransiskus Asisi dan St. Bonaventura di abad pertengahan, yang kemudian dituangkan dalam 14 pemberhentian seperti yang kita kenal sekarang dari komunitas Fransiskan di abad ke 17. Tujuan renungan/ meditasi ini adalah supaya umat dapat merenungkan kisah sengsara Yesus dari saat sebelum wafat-Nya sampai Ia dikuburkan.
Ibadat Jalan Salib diadakan setiap Hari Jumat selama Masa Prapaskah, Ibadat ini dapat dilaksanakan di Gereja atau dapat juga dilaksanakan di di setiap lingkungan di tempat yang sesuai. Doa jalan Salib pribadi atau bersama keluarga juga dianjurkan untuk dilaksanakan selama Masa Prapaskah.
Doa Jalan Salib biasanya disesuaikan dengan tema APP di setiap Keuskupan.
Jalan Salib juga dapat diadakan dengan sedikit improvisasi dan modifikasi agar lebih menghasilkan buah-buah kebaikan selama Masa Prapaskah atau lebih menguatkan tujuan tentang makna sebenarnya dari Masa Prapaskah. Satu hal yang pernah kami laksanakan ialah Jalan Salib dengan perhentian rumah-rumah orang sakit dan lansia. Dlam setiap rumah yang kami “pandang” sebagai sebuah perhentian Jalan Salib, kami bertemu Yesus yang sengsara dalam diri mereka yang sakit dan jompo, disitulah kami “membalut luka-luka Tuhan” dengan menghibur dan mendoakan orang-orang sakit dan jompo tersebut.

6. LITURGI YANG BERBEDA selama MASA PRAPASKAH
Kemuliaan dan Alleluia tidak dinyanyikan selama masa Prapaskah, kecuali pada hari raya wajib selama masa Prapaskah, yaitu HR St. Yusuf (tgl. 19 Maret) dan HR Kabar Sukacita (tgl. 25 Maret)
Ikon-ikon kudus ditutupi, menandakan masa “umat di padang gurun”, hiasan-hiasan sebaiknya tidak dibuat mewah, hiasan bunga ditiadakan selama masa Prapaskah. Alat-alat musik hanya boleh dimainkan secara sederhana untuk mengiringi nyanyian dan yang menggarisbawahi ciri tobat.
Sejalan dengan itu, maka Perayaan-perayaan atau pesta-pesta dan resepsi tidak dianjurkan selama masa Prapaskah. Demikian biasanya penerimaan Sakramen Perkawinan dan Imamat ditiadakan selama masa Prapaskah. Tetapi pemberesan perkawinan bagi mereka yang terkena ekskomunikasi sangat dianjurkan selama Masa Prapaskah (lihat poin di atas). Pastor paroki dimohon secara bijaksana mencermati dan mengambil kebijakan sebaik mungkin dalam situasi dan kebutuhan pelayanan umat ini.
Hari Minggu Palma : Mengenangkan Sengsara Tuhan. Liturgi dimulai dengan upacara di luar Gereja, dilanjutkan perarakan menuju Gereja sambil membawa daun-daun palma yang telah diberkati. Dalam Bacaan terdapat Kisah Sengsara Yesus, untuk tahun 2011 (Tahun Liturgi A), dibacakan Kisah Sengsara menurut St. Matius

Liturgi Tri Hari Suci.
Kamis Putih: Penetapan Perjamuan Suci / Peringatan Perjamuan Malam Terakhir.
Pagi hari di Katedral: Misa Krisma
warna liturgi : Putih, ada pembasuhan kaki, perarakan dan pentahtaan Sakramen Mahakudus, hiasan altar “dilucuti” setelah Ekaristi (terakhir).
ibadat tuguran: satu jam bersama Yesus, ibadat ini dapat dilaksanakan secara umum setiap jam atau bergiliran tiap lingkungan. 

Jumat Agung : Peringatan Sengsara dan Wafat Tuhan Yesus Kristus.
Altar polos dan bersih dari segala hiasan, tabernakel kosong dan terbuka.
Warna liturgi: Merah, tidak ada Ekaristi, tidak ada Tanda Salib, tidak ada nyanyian, kecuali Bait Pengantar Injil, langsung pembacaan KS, Pasio (Kisah Sengsara Tuhan) dari Injil Yohanes, Penghormatan Salib, Doa Umat meriah, Berkat meriah.
Dapat diterimakan komuni setelah penghormatan Salib.

Sabtu Vigili: Malam Tirakatan Kebangkitan Tuhan: Merenungkan Tuhan yang Bangkit dan mengalahkan maut, membawa Terang dan memperbaharui hidup umat manusia.
Liturgi Cahaya: Upacara Lilin Paskah dan Pujian Paskah
Liturgi Bacaan: Dibacakan 9 Bacaan Kitab Suci : 7 dari PL dan 1 Surat St Paulus dan Kutipan Injil Matius (Tahun A)
Liturgi Baptis: Pemberkatan Air dan Pembaharuan Janji Baptis, Pemercikan Air Baptis kepada seluruh umat, malam paling tepat bila mau mengadakan pembaptisan.
Liturgi Ekaristi dan Berkat Paskah meriah dengan Alleluia.

HR Paskah Kebangkitan Tuhan: Bersukacita karena Tuhan telah bangkit,
Ekaristi Pagi : Resurrexit, Kabar Sukacita karena Tuhan telah bangkit (Yoh 20:1-9)
Ekaristi Sore : Kebangkitan Tuhan Mengobarkan Semangat bagi yang Putus Asa (Luk 24:13-35)

Petunjuk Liturgi selengkapnya tentang Tri Hari Suci dan HR Paskah Kebangkitan Tuhan dapat dilihat di http://programkatekese.blogspot.com/2010/06/tema-xiii-liturgi-pekan-suci.html
Diposkan oleh Y. AGUS YUDIANTO di 13:54  

 

Kamis, 07 Oktober 2010

7 Oktober 2010 - Our Lady of the Rosary's Day

Salam Sejahtera bagi kita semua,


Hari ini tepat tanggal 7 Oktober 2010. Umat katolik sedunia hari ini merayakan Hari Ratu Rosary.
Bulan Oktober juga biasa dikenal sebagai bulan Rosario, dimana gereja melalui lingkungan-lingkungan akan mengajak umat secara bersama-sama mendaraskan doa Rosario serta Novena 3x salam maria.

Atas ajakan gereja tersebut, kami dari penngurus Lingkungan St. Maria de Lourdes akan kembali mengajak bapak ibu dan anak-anak di Lingkungan St. Maria de Lourdes untuk bersama-sama berkumpul dan berdoa.

Waktu Pelaksanaan adalah selama 9 hari berturut-turut, mulai tanggal 18 Oktober sampai dengan tanggal 26 Oktober. tempat pelaksanaan doa akan kami umumkan kembali melalui warta lingkungan yang akan dibagikan dalam waktu dekat.

Tuhan Memberkati

Kamis, 16 September 2010

Bulan Kitab Suci 2010 “Biarkanlah Anak-anak Datang Kepada-Ku”

Macintosh HD:Users:GunHP:Desktop:Scan.jpeg
Bulan September oleh Gereja Katolik telah ditetapkan sebagai Bulan Kitab Suci. Pada bulan ini, kembali kita diajak turut serta bersama-sama dengan seluruh umat Katolik di Indonesia untuk melakukan perenungan, pembacaan dan penelaahan Kitab Suci dalam setiap kesempatan yang ada agar iman kita semakin dipertebal dan kita boleh menjadi saluran berkat bagi setiap orang yang ada di sekitar kita.


Untuk itu, kami, pengurus Lingkungan St. Maria de Lourdes bersama-sama dengan pengurus Lingkungan St. Maria de Fatima akan kembali mengadakan pertemuan Pendalaman Kitab Suci, setiap pukul 20:00 - 21:30,dengan tempat dan sub tema sebagai berikut:

Pertemuan Pendalaman Kitab Suci 2010
Lingkungan MDL & MDF
Tema: “Biarkanlah Anak-anak Datang Kepada-Ku” 
(Lukas 18:16)

Jadwal:
Pertemuan I            :     Jum’at, 17 September 2010,
                                    Tempat: Intan I no. 7
                                    Sub Tema: Awal Perkenalan dg Allah
                                    (Bacaan KS: Ulangan 6:4-25)

Pertemuan II            :    Senin, 20 September 2010
                                    Tempat: Intan  7 no. 6
                                    Sub Tema: Kenal Alkitab Sejak Kecil
                                    (Bacaan KS: 2 Timotius 3: 10-17)

Pertemuan III            :   Jum’at, 24 September 2010
                                    Tempat: Intan I no. 15
                                    Sub Tema: Mendidik Anak Menjadi Taat
                                    (Bacaan KS: Efesus 6:1-4)
                                   
Pertemuan IV            :   Senin, 27 September 2010,
                                    Tempat: Intan 5 no. 5
                                    Sub Tema: Sayang Anak Seperti Yesus
                                    (Bacaan KS: Markus 10:13-16)

Partisipasi Bapak/Ibu/Sdra/I sangat kami harapkan, dan semoga melalui pertemuan ini kita semakin mampu memahami dan mewujudkan cara hidup beriman yang baik.

Tuhan Memberkati



Selasa, 16 Februari 2010














APP 2010: "Mari Bekerjasama Memerangi Kemiskinan"

Sebelum diputuskan, tema APP tahun 2010 tersebut dibahas sebagai salah satu agenda Raker oleh seluruh wakil Komisi-komisi dan Pemikat KAJ bersama Bapak Uskup dan para staf beliau dalam kelompok-kelompok diskusi.


Pembahasan Tema

Dalam pembahasan diskusi kelompok, para peserta Raker mencermati kerangka gagasan dasar dan sejumlah "kata kunci" rumusan tema seperti "kerja sama", "kebaikan bersama" atau "bonum commune", "kesejahteraan bersama" dan "habitus". Menurut sejumlah peserta Raker, "kebaikan bersama" atau "bonum commune" dan "kesejahteraan bersama" mengandung makna yang luhur dan mendalam, namun masih terlalu luas atau kurang terfokus pada agenda perubahan apa yang ingin diperjuangkan Gereja KAJ secara konkret di tengah masyarakat.

"Kalau kita sedikit flash back, tema-tema APP terdahulu lebih menggugah, misalnya Adilkah Aku?, Korupsikah Aku?, Mari Bertanggungjawab. Maka, tema APP 2010 seputar kerjasama untuk kesejahteraan bersama perlu dirumuskan lebih menggugah," usul Paulus Krissantono, Ketua Komisi Kerasulan Awam KAJ. Sedangkan Pst. Ignas Tari, MSF, Ketua Komisi Kerasulan Keluarga KAJ, mengusulkan "Rumusan tema ... kalau bisa ... yang mudah diingat orang dan juga menggugah."

Sementara itu, Pst. Yohanes Subagyo Pr, Vikaris Jenderal KAJ, mengusulkan agar perumusan tema sekaligus memperjelas sasaran gerakan APP itu sendiri. "Soal kesejahteraan umum, kebaikan bersama, bonum commune ... sebenarnya apa yang ingin dituju? Kita perlu memperjelas sasaran yang lebih terukur dan memiliki indikasi yang jelas," katanya.

Fokus tema menjadi semakin jelas ketika pembahasan tema dilakukan dalam diskusi kelompok. Pst. Purbo Tamtomo Pr, Sekretaris Keuskupan, mewakili kelompok pembahas yang dilibatinya, mengusulkan masalah kemiskinan dimasukkan dalam rumusan tema sebagai sasaran gerakan kerjasama. "Target yang ingin kita bawa setiap tahun adalah membangun kerjasama, tapi fokus pertama (di tahun 2010) adalah memerangi kemiskinan," jelasnya.


Tema yang Berkelanjutan

Dalam perumusan tema APP tahun 2010 tersebut, Bapak Uskup mencermati proses dan hasil diskusi kelompok-kelompok pembahas. Menurut beliau, selama ini selalu ada tema APP yang baru untuk tahun baru, padahal pergantian tema baru semacam itu tidak perlu. "Kalau (masalah) yang ingin diperangi sulit sekali (diselesaikan), temanya harus (dipertahankan) terus menerus, tak usah diubah," jelas beliau.

Bapak Uskup setuju dengan usulan satu tema untuk geraakan APP dalam beberapa tahun. Hanya saja, bahan-bahan sosialisasi dan pendalamannya perlu diremajakan dengan dasar yang lebih luas. "Tapi temanya adalah tetap, Mari Bekerjasama Memerangi Kemiskinan," tegas beliau.


Gerakan "ke Dalam" dan "ke Luar"

Selain memutuskan rumusan tema APP tahun 2010, Bapak Uskup juga mengajak seluruh peserta Raker untuk menggiatkan kerja sama memerangi kemiskinan dalam dua gerakan, yakni "ke dalam" dan "ke luar".

Gerakan "ke dalam" berarti menggerakkan umat Gereja KAJ untuk melaksanakan tema tersebut. "Misalnya keluarga Katolik diajak untuk berefleksi ... bagaimana meningkatkan kemampuan diri (anggota keluarga) sebagai orang yang masih bisa bekerja untuk memberdayakan dirinya. Bagaimana dalam keluarga (terjadi upaya) saling memberdayakan untuk meningkatkan kesejahteraan (misalnya) memikirkan bagaimana menanam buah dan sayuran, memelihara ayam. Supaya ada kemampuan keluarga untuk bekerjasama, dalam arti (anggota keluarga) yang satu sedang keluar mencari rejeki yang tak banyak, (anggota keluarga) yang di rumah harus juga bekerja. Laki-laki atau perempuan harus bekerjasama memerangi kemiskinan dalam keluarganya sendiri," jelas Bapak Uskup.

Sedangkan "gerakan ke luar" berarti memperhatikan orang-orang miskin no-Katolik dan mengajak mereka bekerjasama meningkatkan kemampuan memerangi kemiskinan. "Sebagai gembala yang baik, kita harus mencari orang yang miskin dan termiskin. Sebagai contoh, sekarang ini sedang ingin diberdayakan lahan kosong di Pamulang untuk (dimanfaatkan) kaum buruh yang ingin mencari nafkah. Masih banyak lahan kosong yang bisa dimanfaatkan," jelas beliau. [Felix Iwan Wijayanto]


sumber: www.kaj.or.id

Rabu, 25 November 2009

Bertumbuh Menjadi Pembawa Damai

Salam Damai Kristus beserta kita semua,

Bapak, ibu dan saudara saudari terkasih dalam Kristus, pada tanggal 29 Nov 2009, Seluruh umat Katolik akan mengawali kalender gerejawinya dengan merayakan masa Adven.

Adven, dari kata “adventus” berarti menantikan kedatangan Kristus. Dengan demikian kehidupan anggota jemaat dan umat manusia pada hakikatnya berada di antara 2 kedatangan Kristus, yaitu kedatangan Kristus yang pertama melalui diri Yesus dari Nazaret dan kedatangan Kristus yang kedua melalui diri Kristus yang telah wafat dan dimuliakan.



Adapun tema Masa Adven KAJ kali ini adalah: "Bertumbuh Menjadi Pembawa Damai" dan dalam kesempatan ini, kami ingin mengundang bapak/ibu/saudara/i untuk turut serta berperan aktif dlm kegiatan Pendalaman Iman Masa Adven 2009 ini dengan Jadwal kegiatan sebagai berikut:

Pertemuan I , Rabu 25 Nov 2009 Pukul 20:00 - 21:00 di rumah bpk Jonathan, Intan 5 no. 16 (bacaan diambil dr Kolose 1:15-23)

Pertemuan II, Rabu 2 Des 2009 Pukul 20:00 - 21:00 di rumah bpk Gunawan, Intan 7 no. 6 (bacaan diambil dr Kejadian 50:15-21))

Pertemuan III, Rabu 9 Des 2009 Pukul 20:00 - 21:00 di rumah bpk Jony, Intan 1 no. 23 (bacaan diambil dr Lukas 2:21-35)

Pertemuan IV, Rabu 16 Des 2009 Pukul 20:00 - 21:00 di rumah bpk Silvanus, Intan 7 no. 12 (bacaan diambil dr Matius 5:1-12)

Semoga, melalui masa Adven ini, kita semua dapat semakin belajar dan mempersiapkan diri kita untuk hidup menurut sistem nilai yang telah ditentukan Allah Bapa di Surga.

Sampai bertemu dlm pertemuan-pertemuan diatas.

Salam Sejahtera,

Gunawan HP
A/n Pengurus Lingkungan
St. Maria de Lourdes
http://lingkunganmdl.blogspot.com



-- Post From My iPhone

Senin, 02 November 2009

Ziarek GM. Tebar Kamulyan, Subang - Karmel, Lembang - Bandung


Puji Syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, bahwa perjalanan ziarek lingkungan St. Maria de Lourdes pada tanggal 31 Oktober lalu telah dapat berjalan dengan baik.

Sebagaimana telah disampaikan dalam tulisan sebelumnya, Pada tanggal 31 Oktober 2009 lalu, Lingkungan St. Maria de Lourdes telah mengadakan kegiatan Ziarek ke Gua Maria Tebar Kamulyan, Subang lalu ke Gereja Karmel di Lembang dan berekreasi sejenak di kota Bandung.

Jumlah peserta Ziarek kali ini tercatat sebanyak 39 orang, namun yang ikut naik ke Bus pada hari H hanya 34 orang, karena 2 peserta lainnya mendapatkan halangan untuk berangkat ziarek dan 3 peserta lainnya sakit. Namun demikian, suasana sukacita dan penuh canda tawa tetap mewarnai perjalanan para peserta Ziarek yang kali ini dipandu oleh ibu Maria selaku pimpinan dari Maria Tour, suatu perusahaan penyedia jasa Tour Rohani yang kali ini diberikan kepercayaan oleh Lingkungan kami untuk mengurus segala sesuatu dari awal hingga akhir Ziarek.

Setelah diawali dengan Doa, rombongan Bus mulai berjalan menuju lokasi Ziarek tepat pada pukul 06:10 WIB, dan saat bus mulai melaju, kami di dalam bus melanjutkan doa kami dengan berdoa Rosario.

Selesai Doa Rosario, makan pagi berupa nasi uduk dengan ayam mulai dibagikan kepada para peserta Ziarek, dan perjalanan dilanjutkan dengan bersama-sama menyanyi dan memuji Tuhan hingga kami tiba di etape pertama, yaitu tempat istirahat di Km.57 untuk beristirahat sebentar sebelum perjalanan dilanjutkan kembali langsung menuju Subang.

Bus tiba di Subang tepat pukul 9:10, dan Bus kami adalah Bus ke 5 yang parkir dalam pelataran parkir Gereja Kristus Sang Penabur, Subang (total hari itu ada ± 10 Bus Peziarah). Setelah para peserta melepaskan penat sejenak, tepat pukul 9:20, Rombongan Ziarek mulai bersama-sama berdoa Jalan Salib mengitari kompleks gereja GM. Tebar Kamulyan. Jalan salib ini berjalan dengan hidmat, diikuti oleh seluruh peserta, baik tua maupun muda yang secara khusuk turut
ambil bagian dalam setiap bacaan doa dan nyanyian yang dibawakan selama prosesi Jalan Salib berlangsung.

Pukul 10:05, prosesi Jalan Salib telah selesai dilakukan, dan para peserta Ziarek segera memenuhi ruangan Gereja Katolik Kristus Sang Penabur untuk mengikuti Misa Ekaristi yang akan dipersembahkan oleh Pastor Handi pada pukul 10:15.

Pukul 12:00, setelah mengikuti misa dan berfoto bersama di depan Gua Maria Subang, Rombongan kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Strawberry untuk makan siang bersama. Suasana sejuk di tengah perkebunan strawberry, membuat makan siang kami dengan menu daging empal, ikan asin, pete goreng, perkedel jagung, karedok dan sayur asem semakin lahap apalagi setelah makan siang, segelas juice strawberry murni menemani kami melegakan dahaga.... hmmm... sungguh menyegarkan.

Setelah Makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju Gereja Maria Bunda Karmel (St. Maria Fatima) di Lembang. Acara doa kali ini memang dibuat personal, jadi para peserta Ziarek masing-masing melakukan doa pribadi di depan Gua Maria Lembang.

Selepas dari Lembang, perjalanan Ziarah kami telah selesai. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan "rekreasi" menuju Bandung untuk belanja oleh-oleh, kue dan jajan makanan kecil :-)

Pukul 18:30 tepat, kami sudah berkumpul kembali di meeting point bus di Dago, tepatnya di depan FO Grande, dan kami bersiap-siap pulang menuju Alam Sutera kembali. Saat peserta sdh kumpul semua di Bus, makan malam berupa paket Hoka-Hoka Bento di bagikan kepada tiap peserta, dan bus langsung berjalan menuju TOL Purbalenyi untuk selanjutnya mengantar kami ke Alam Sutera.

Puji Tuhan, perjalanan yang cukup lancar membawa kami tiba di Gerbang Sutera Intan tepat Pukul 21:30, saatnya berpisah setelah seharian melakukan perjalanan bersama. Kamipun bersalaman satu dengan yang lainnya, mengemasi barang bawaan dan oleh-oleh
kami dan turun dari bus, berjalan kaki menuju rumah kami masing-masing.

Kami dari pengurus Lingkungan St. Maria de Lourdes, mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya atas partisipasi dari para peserta Ziarek dan juga permohonan maaf bila dalam kegiatan Ziarek ini masih banyak kekurangan yang terjadi disana-sini.

Ucapan terima kasih secara khusus juga Pengurus Lingkungan berikan kepada Keluarga Bapak Arie Emanuel, warga Sutera Kirana (beliau sedianya akan mengikuti Ziarek ini, namun harus dibatalkan karena satu dan lain hal) karena telah menyumbangkan Satu (1) buah Spanduk berukuran 60 x 200 cm yang kemudian kami gunakan dalam setiap kesempatan acara Foto bersama.

Semoga kesempatan seperti ini akan dapat berulang pada masa-masa mendatang dan kembali kita merasakan kebersamaan kita sebagai satu keluarga besar Lingkungan St. Maria de Lourdes di lain waktu.


Tuhan Memberkati,

GP