Salam Damai Kristus beserta kita semua,
Bapak, ibu dan saudara saudari terkasih dalam Kristus, pada tanggal 29 Nov 2009, Seluruh umat Katolik akan mengawali kalender gerejawinya dengan merayakan masa Adven.
Adven, dari kata “adventus” berarti menantikan kedatangan Kristus. Dengan demikian kehidupan anggota jemaat dan umat manusia pada hakikatnya berada di antara 2 kedatangan Kristus, yaitu kedatangan Kristus yang pertama melalui diri Yesus dari Nazaret dan kedatangan Kristus yang kedua melalui diri Kristus yang telah wafat dan dimuliakan.
Adapun tema Masa Adven KAJ kali ini adalah: "Bertumbuh Menjadi Pembawa Damai" dan dalam kesempatan ini, kami ingin mengundang bapak/ibu/saudara/i untuk turut serta berperan aktif dlm kegiatan Pendalaman Iman Masa Adven 2009 ini dengan Jadwal kegiatan sebagai berikut:
Pertemuan I , Rabu 25 Nov 2009 Pukul 20:00 - 21:00 di rumah bpk Jonathan, Intan 5 no. 16 (bacaan diambil dr Kolose 1:15-23)
Pertemuan II, Rabu 2 Des 2009 Pukul 20:00 - 21:00 di rumah bpk Gunawan, Intan 7 no. 6 (bacaan diambil dr Kejadian 50:15-21))
Pertemuan III, Rabu 9 Des 2009 Pukul 20:00 - 21:00 di rumah bpk Jony, Intan 1 no. 23 (bacaan diambil dr Lukas 2:21-35)
Pertemuan IV, Rabu 16 Des 2009 Pukul 20:00 - 21:00 di rumah bpk Silvanus, Intan 7 no. 12 (bacaan diambil dr Matius 5:1-12)
Semoga, melalui masa Adven ini, kita semua dapat semakin belajar dan mempersiapkan diri kita untuk hidup menurut sistem nilai yang telah ditentukan Allah Bapa di Surga.
Sampai bertemu dlm pertemuan-pertemuan diatas.
Salam Sejahtera,
Gunawan HP
A/n Pengurus Lingkungan
St. Maria de Lourdes
http://lingkunganmdl.blogspot.com
-- Post From My iPhone
Rabu, 25 November 2009
Bertumbuh Menjadi Pembawa Damai
Senin, 02 November 2009
Ziarek GM. Tebar Kamulyan, Subang - Karmel, Lembang - Bandung


Jumat, 09 Oktober 2009
ZIAREK - Gua Maria

Bapak-bapak, Ibu-ibu dan Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Tuhan kita,
Kamis, 08 Oktober 2009
Gempa 7,8SR di Padang
Lirik dan chord :
Pulihkan Negeri Kami
(Franky Sihombing)
Key: G
G F/G
Kami umat-Mu rendahkan diri
Eb/G D
sujud dan berdoa
G F/G
Mencari wajah-Mu berbalik dari
Eb/G D
jalan kami yang jahat
Am Bm Dm G C
Oleh Anug'rah-Mu ampu- ni-lah
Am Bm C D
Oleh Anug'rah-Mu pulihkanlah
Reff:
G Em
Tuhan pulihkan, Bapa pulihkan
Am Am/G F D
Kembalikan bangsa kami kepada-Mu
G Em
Bapa pulihkan ampunilah bangsa kami
Am G/B C D G
Dan pulihkan kembali neg'ri kami
-- Post From My iPhone
Selasa, 15 September 2009
Sedikit catatan dari seminar bersama Romo Deshi tentang Apologetika Biblis Katolik
APOLOGETIKA BIBLIS KATOLIK
Romo Deshi Ramadhani,
Katedral Jakarta 12 September 2009
Pengantar:
Diawali dengan latar belakang apa yang dikatakan oleh gereja tentang
hubungan kita dalam konteks ekumenisme dengan saudara-saudari Protestan dan
melihat tantangan dan contoh argumen mana yang selama ini sering digunakan
untuk menyerang kita. Pada umumnya hubungan kita baik-baik saja walau
kenyataan tidak selalu seperti itu, ada saat-saat di mana hubungan kita
menjadi sesuatu yang seperti perdebatan.
Sementara itu ada perkembangan di luar gereja Katolik yang tanpa kita
ketahui begitu kuat dan pesat mewarnai kekristenan dari gerakan Pentakostal
karismatik bahkan sekarang dikatakan gerakan Pentakostal karismatik menjadi
aliran besar dalam kekristenan setelah Katolik dan Protestan banyak negara
yang Katolik menjadi Pentakostal katrismatik, Brazil misalnya dan Filipin
yang pelan-pelan menuju ke arah itu.
Efeknya adalah banyak orang Katolik yang mudah diyakinkan oleh
argumen-argumen biblis. Sebuah data dari tahun 1994 menunjukkan bahwa
anggotanya lebih dari 400juta dengan kecepatan pertambahan 19 juta per
tahun. Berarti perhari mereka mendapatkan 54.000 anggota baru. Diperkirakan
ada sekitar 14 000 denominasi di luar aliran-aliran besar Protestan sendiri
sehingga pada tahun 1994 setiap denominasi, mendapat 3 atau 4 anggota baru
tiap hari. Pemasok paling besar adalah gereja Katolik. Kelompok bekas
Katolik ini bertambah begitu cepat karena daya tarik gerakan Pentakostal.
Ada satu ciri yang berjalan beriring dan bercampur dengan perkembangan
pentaskostal tersebut yaitu cara penafsiran alkitab secara fundamentalis
sehingga ada istilah fundamentalis biblis.
Fundamentalis vs Katolik Roma
Tahun 1962 Loraine Boettner menulis sebuah buku berjudul Roman Catholicism.
Buku ini menjadi buku pegangan untuk orang-orang Protestan Fundamentalis
Biblis garis keras karena buku ini walau judulnya Roman Catholicism tapi
isinya adalah segala macam pembuktian berdasarkan teks-teks Kitab Suci yang
ingin memperlihatkan bahwa ada banyak hal yang keliru dalam gereja Katolik
Roma, banyak hal yang tak berdasarkan Kitab Suci secara eksplisit.
Pernyataan ini ditambah dengan kesadaran bahwa salah satu ciri fundamentalis
biblis adalah mereka sangat menaruh perhatian pada akhir zaman, ada
perhitungan-perhitungan khusus. Perhatian dititikberatkan pada akhir zaman
karena menimbulkan motivasi sangat kuat agar orang bertobat dan menjadi baik
karena kalau tidak akan terlambat. Dalam dinamika itu banyak orang juga
digerakkan oleh buku tersebut dan justru digerakkan oleh pengalaman rohani,
cinta mereka akan Yesus, mereka masuk dalam kelompok misi untuk
mempertobatkan orang katolik.
Orang-orang muda itu berdoa sungguh-sungguh agar ada teman yang Katolik bisa
dipertobatkan karena mereka begitu sedih melihat banyak temannya disesatkan
oleh ajaran gereja Katolik sehingga akan binasa kalau akhir zaman tiba.
Mereka punya sebuah misi yaitu Mission to Catholics International, sebuah
bentuk pelayanan fundamental evangelikal yang ingin merangkul dan menjangkau
orang-orang Katolik dengan pesan keselamatan dari Kitab Suci. Prinsipnya
hanya rahmat, hanya melalui iman, hanya dalam Kristus, kita percaya
keselamatan yang diajarkan hanya oleh kitab suci saja.
BAGAIMANA BERJALAN BERSAMA/UNITATIS REDINTEGRATIO 11
Catatan: tidak semua orang Protestan adalah fundamentalis, tak semua orang
Pentakostal fundamentalis, tidak semua karismatik fundamentalis, tak semua
Protestan anti Katolik tapi ada dari mereka yang anti Katolik. Lalu menjadi
sebuah ‘bahaya’ karena kenyataan perkembangan karismatik Pentakostal yang
sedemikian cepat karena adanya cara penafsiran fundamentalis yang anti
Katolik.
Unitatis Redintegratio 11. dokumen KONSILI VATIKAN II
¡ Metode serta cara mengungkapkan iman Katolik jangan sampai menghambat
dialog dengan saudara-saudari kita. Memang seharusnyalah ajaran seutuhnya
diuraikan dengan jelas. Tiada sesuatu pun yang begitu asing bagi ekumenisme
seperti irenisme (sikap “suka damai”) palsu, yang merugikan bagi kemurnian
ajaran Katolik, serta mengaburkan artinya yang otentik dan pasti.
¡ Iman Katolik hendaknya diuraikan secara lebih mendalam sekaligus
lebih cermat, dengan cara dan bahasa yang sungguh dapat dipahami oleh
saudara-saudari yang terpisah.
Paus Benediktus XVI punya keyakinan bahwa relativisme iman itu membahayakan
iman Katolik. Kita harus berdialog tapi juga harus membela, mempertahankan,
menjelaskan apa yang buat kita menjadi kebenaran iman kita. Artinya kalau
mau berdialog dengan mereka, mau membuka diri untuk berbicara dengan mereka
kita perlu secara serius mempelajari apa yang ada dalam kekayaan kita yang
bisa menjadi bahasa yang sama yang bisa dipahami oleh saudara-saudari yang
anti Katolik itu dan bahasa mereka adalah kitab suci. Bahasa mereka tak ada
yang lain, mereka tak akan mengutip wejangan Paus, Dokumen Konsili Vatikan
II, Dogma gereja Katolik, apalagi ucapan santo-santa, selain itu kita juga,
umat dan hirarki, klerus, para romo, uskup seringkali begitu cepat
bersembunyi dalam rasa aman di balik bungkus yang disebut tradisi,
magisterium.
Unitatis redintegratio 21
l Akan tetapi dalam dialog sendiri sabda Allah merupakan upaya yang
luar biasa dalam tangan Allah yang penuh kuasa untuk mencapai kesatuan, yang
oleh Sang Penyelamat ditawarkan kepada semua orang.
Dokumen yang sama secara lebih ekplisit mengundang orang Katolik untuk
melihat Kitab Suci. Akan tetapi dalam dialog itu sendiri, sabda Allah
merupakan upaya yang luar biasa, artinya Kitab Suci yang kita miliki adalah
upaya yang luar biasa dalam tangan Allah dan yang penuh kuasa untuk mencapai
kesatuan yang oleh sang Penyelamat ditawarkan pada setiap orang.
Kita yang dipercaya oleh Tuhan untuk ikut serta dalam karya Allah
mengusahakan sabda yang ditulis itu supaya dikenal umat, diberi kepercayaan
lebih lagi untuk lebih serius mengusahakan bahasa Kitab Suci sebagai dasar
menjelaskan kebenaran iman. Bisa lewat analisis refleksi teologis tapi bisa
juga dijelaskan hanya dengan ayat-ayat yang mereka kenal itu.
BEBERAPA CONTOH.
TENTANG 666: Warning 666 is coming
Ini menu kesukaan orang fundamentalis anti Katolik.
Wahyu 13:18
13:18 Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah
ia menghitung bilangan binatang itu,
karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah
enam ratus enam puluh enam.
Untuk orang fundamentalis biblis, 666 ini berarti binatang antikristus yang
adalah Paus di Roma. Kitab Wahyu ditulis pada saat jemaat perdana mengalami
banyak pengejaran, penganiaya terbesar adalah kaisar Nero, banyak orang mati
di sana pada waktu itu dan angka 666 ini sebenarnya ditujukan untuk Nero.
Tapi para kaum fundamentalis tersebut mengatakan bahwa 666 itu adalah simbol
untuk siapapun yang berkuasa di Roma, yang berkuasa di Roma adalah Paus maka
jangan heran banyak selebaran di sana-sini yang mengatakan bahwa apa yang
disebut sebagai antiKristus adalah Paus dan pengikutnya adalah kita semua
dan karena itu dia yang memimpin dan segala pengikutnya akan dibasmi pada
akhir zaman karena ketika anak manusia tampil kembali sang antikristus akan
kalah.
Nero dalam tradisi literatur kuno atau antik ditulis dengan huruf-huruf
dalam kata-kata yang juga menjadi simbol untuk jumlah tertentu.
Nun dalam bahasa Yunani = 50
Resh 200
Waw 6
qoph 100
samech 60
NRWN QSR (666) dihitung jumlahnya 666
Para ahli dikejutkan oleh sebuah temuan, sebuah teks yang lebih tua dari
teks yang biasa kita pakai yang waktu itu ditulis tanpa huruf N di belakang
NRW QSR, untuk penulisan nama kaisar Nero sehingga kalau Nun tak ada berarti
jumlahnya hanya 616. Ini teks yang menurut banyak ahli lebih tua tapi kenapa
lalu dibuat bulat supaya jadi 666? Dalam cara penulisan itu huruf N akhir
optional, bisa ditaruh bisa tidak.
Tanggapan:
Dalam Kitab Suci kita ketahun bahwa 7 adalah angka sempurna, jadi 777 itu
sempurna sekali, disini ingin dijelaskan bahwa ada sebuah kekuatan yang tak
bakal sempurna karena kesempurnaan hanya milik Tuhan, maka untuk kekuatan
yang paling menakutkan itu, simbol yang paling jelas adalah 666.
Seringkali ada orang membuat argumen pokoknya gerejamu antikristus, kamu
salah, ada buktinya. Tetapi kalau mau serius berpikiran sehat sedikit kita
akan memahami bahwa 666 itu adalah Nero, kekuatan yang luar biasa yang
membunuh para pengikut Kristus.
MARIA HAWA YANG BARU/TENTANG MARIA DIKANDUNG TANPA NODA DOSA
Kita akan mencoba menguji ajaran iman dalam dogma Katolik tentang Maria
dikandung tanpa noda, Maria diangkat ke surga dengan tubuh dan jiwanya.
Kelompok Fundamentalis Biblis Anti Katolik mengatakan gereja lewat
magisterium, lewat Paus menambah sesuatu yang baru dalam Kitab Suci karena
kalau ditanya tentang dogma-dogma tersebut maka tak ada ayatnya dalam Kitab
Suci. Teks Kitab Suci tidak mengatakan apa-apa tentang Maria diangkat ke
surga maupun Maria dikandung tanpa noda, tapi kita akan membuktikan bahwa
yang dilakukan oleh Gereja Katolik sangat mendasar pada Kitab Suci.
1. Kej 1:1, kita membaca pada awal mula Allah menciptakan dunia, bdk Yoh
1:1 kita juga mendengar pada mulanya adalah Firman, Firman bersama dengan
Allah dan Firman adalah Allah. Orang yang terbiasa dengan Kejadian 1, atau
orang Yahudi yang mendegar Yohanes akan bilang hati-hati, ini merupakan
rujukan pada kisah Kejadian.
2. Ungkapan tentang terang Kej 1:3-5 bdk Yoh 1:4-5
3. Ungkapan saat Yesus dibaptis, Roh turun melayang Yoh 1:32-33 bdk Kej
1:2 dikatakan Roh Allah melayang-layang artinya orang yang terbiasa dengan
kitab Kejadian akan menangkap sesuatu yang mau dikatakan oleh Yohanes itu
berkaitan dengan Kitab Kejadian
4. Yohanes sangat gemar menghitung hari. Yoh 1:29 (hari ke-2), ayat 35
(hari ke 3), ayat 43 (hari ke-4), keesokan harinya. Dalam Yohanes 2:1
dikatakan pada hari yang ke tiga berarti hari tersebut dihitung dari hari
yang keempat, berarti itu adalah hari ke tujuh, orang Yahudi yang terbiasa
dengan Kitab Kejadian tahu bahwa pada hari ke-7 Allah beristirahat, maka
mereka akan menyatakan bahwa Yohanes ingin mengatakan sesuatu yang terjadi
pada hari ke tujuh. Pada hari ke tujuh terjadi perkawinan di Kana. Yoh 2:4;
19:26-Yesus berkata: Perempuan, waktu-Ku belum tiba. Maria disapa sebagai
perempuan bukan mami, atau mama tapi perempuan dan diucapkan lagi oleh Yesus
pada saat di salib hai perempuan inilah anakmu, inilah ibumu. Kata
perempuan mengingatkan kita pada Kejadian 2:23, ucapan bahwa Adam memberi
nama perempuan itu Hawa, karena diambil dari laki-laki. Kata perempuan ini
kalau dilihat dalam Wahyu muncul lagi: Why 12:1, 9 perempuan.. ular iblis
bdk Kejadian 3:15
5. Eva à ß AVE Maria dihadirkan sebagai hawa yang baru lewat perhitungan
hari dan sapaan sebagai perempuan dan dalam Wahyu terjadi bahwa Maria adalah
hawa yang baru. Hawa yang lama diciptakan tanpa dosa, waktu itu belum ada
dosa, diambil dari tulang rusuk, dikasih daging buzz jadi manusia, kalau
Hawa yang lama saja tidak berdosa, Hawa yang baru harus juga tidak berdosa,
kalau tidak bagaimana bisa jadi Hawa yang baru, sehingga gereja mengatakan
Maria dikandung tanpa dosa, karena merumuskan dengan dasar Kitab Suci Maria
sebagai hawa yang baru.
6. Gereja Katolik tak menambah sesuatu yang baru yang tak ada dalam Kitab
Suci sebaliknya gereja Katolik membaca secara serius seluruh isi Kitab Suci,
dari awal Perjanjian Lama sampai akhir Perjanjian Baru dan melihat bahwa
Maria adalah Hawa yang baru sehingga meskipun tak diutulis secara eksplisit,
namun ada kebenaran yang bisa dibuat secara eksplisit oleh gereja dan
magisterium mengatakan dia dikandung tanpa noda dosa.
TABUT PERJANJIAN YANG BARU/TENTANG DOGMA MARIA DIANGKAT KE SURGA
Bagaimana Maria dikatakan dalam gereja Katolik di mana ada hari Pesta Maria
di angkat ke surga. Tak ada ayatnya dalam Kitab Suci. Kalau kita melihat 2
Sam 6 bdk Luk 1. 2 Sam 6 berkisah tentang tabut perjanjian yang dibawa ke
Yerusalem oleh Raja Daud, dia menari-nari dan melonjak-lonjak kegirangan
karena ada tabut perjanjian yang dibawa ke Yerusalem lalu orang-orang yang
mmbawa takut dan harus berhati-hati, bahkan ada insiden mereka pegang-pegang
tabut perjanjian tersebut dan ternyata salah lalu mati. Tabut Perjanjian
tinggal selama tiga bulan di sana. Bdk Luk 1, kisah tentang Maria yang
mengunjungi Elisabet. Ketika Maria datang ada yang melonjak kegirangan,
yaitu bayi dalam kandungan Elisabet, Elisabet merasa tak pantas, siapakah
aku sehingga ibu Tuhanku mengunjungi aku . Maria tinggal 3 bulan di sana.
Untuk orang yang terbiasa dengan 2 Sam 6 maka mereka akan melihat dengan
jelas bahwa kisah dalam Perjanjian Lama terulang kembali dalam kisah Maria
mengunjungi Elisabet. Reaksi dalam tabut Perjanjian Lama terulang dalam
kandungan Elisabet, sehingga dikatakan Maria sebagai tabut perjanjian yang
baru.
ISI TABUT PERJANJIAN LAMA
Dua loh batu à sabda
Dalam Tabut perjanjian berisi 2 loh batu atau 10 perintah Allah. Juga ada
roti manna, ada tongkat Harun, tongkat imam. Tabut Perjanjian Lama memuat
Loh batu 10 sabda 10 perintah Allah, tabut perjanjian yang baru memuat sang
sabda menjadi daging,
Tongkat Imam Harun
Tabut Perjanjian Lama menyimpan tongkat imam Harun, tabut Perjanjian Baru,
Maria mengandung Sang Imam Agung itu sendiri
Ada roti manna sedangkan dalam Tabut Perjanjian Baru, Maria mengandung Yesus
yang adalah Sang Roti Hidup.
Maka data ini cukup kuat memperlihatkan Maria diperkenalkan sebagai Tabut
Perjanjian yang Baru
Apa yang terjadi dengan tabut perjanjian yang lama?
Lihat Wahyu 11:19 + 12:1 ada penampakan Bait Allah di langit dan tampaklah
tabut perjanjian itu. Tapi kalau melihat dengan lebih cermat, ternyata
setelah penampakan Bait Allah dan tabut perjanjian ke luar, maka terlihatlah
seorang wanita. Artinya kalau Maria adalah Tabut Perjanjian yang Baru dan
jelas dilihat kaitannya sangat erat, maka kalau tabut perjanjian yang lama
diangkat ke surga, Tabut Perjanjian yang Baru pasti juga diangkat ke surga.
Dengan dasar ini gereja Katolik menyimpulkan bahwa Maria diangkat ke surga,
tak ada ayatnya tapi kalau membaca Kitab Suci dengan jelas dari awal sampai
akhir maka kesimpulannya tak bisa lain Maria pasti diangkat ke surga.
Gereja Katolik tak mengada-ada atau membuat sesuatu yang baru tapi membuat
eksplisit apa yang dikatakan secara jelas oleh Kitab Suci. Dengan segala
cinta kita mau berdialog dan terbuka tapi ada saatnya iman kita harus
berbicara dengan bahasa yang mereka punya yaitu bahasa Kitab Suci. Kita
diberi tanggungjawab untuk mengajak umat punya bekal dalam hal ini.
(terima kasih u Mungky [belimbingku@gmail.com] atas kiriman artikelnya di milis ApiK juga milis PDKK Gloria)
-- Post From My iPhone
Senin, 24 Agustus 2009
Berjuang Dalam Hidup dengan Terang (Tema Bulan Kitab Suci, KAJ, 2009)
(1) Perjuangan Hidup dalam diriku. (Ayub 7:1-10, sebaiknya baca keseluruhan kisah Ayub).
(2) Hidup dalam Keluarga (Tobit 2 : 9-14)
(3) Perjuangan Hidup dalam lingkungan dan masyarakat (Nehemia 6:1-14)
(4) Perjuangan Hidup dalam Berbangsa dan Bernegara (Roma 13 : 1-7)
(1) Rabu, 2 September, dengan fasilitator Ibu Nini, bertempat di rumah Bp. Joseph
(2) Senin, 7 September, dengan fasilitator Ibu Linda, bertempat di rumah Bp. Joni
(3) Rabu, 9 September, dengan fasilitator Bp. Herianto, bertempat di rumah Bp. Jayandi
(4) Senin, 14 September, dengan fasilitator Bp. Aries dan bertempat di rumah Bp. Sutoyo
Mohon partisipasi Bapak dan Ibu warga Lingkungan St. Maria de Lourdes untuk bersama-sama datang dalam pertemuan ini.
Salam Sejahtera,
GP
Kamis, 20 Agustus 2009
.png)
diambil dari: http://yesaya.indocell.net/id903.htm
Pada akhir 1800-an, Paus Leo XIII (wafat 1903) mendapat penglihatan yang menubuatkan datangnya abad penderitaan dan perang. Usai mempersembahkan Misa Kudus, Bapa Suci sedang bercakap-cakap dengan para kardinal, ketika tiba-tiba beliau jatuh tak sadarkan diri. Segera para kardinal memanggil dokter. Denyut nadi Bapa Suci tak dapat dideteksi; orang takut kalau-kalau Bapa Suci telah berpulang. Sekonyong-konyong, Paus Leo bangun dan mengatakan, “Betapa aku diperkenankan melihat suatu penglihatan yang amat mengerikan!” Dalam penglihatan tersebut, Tuhan mengijinkan setan memilih suatu abad di mana ia boleh melancarkan serangan-serangannya yang paling dahsyat melawan Gereja. Iblis memilih abad ke-20. Bapa Suci begitu tergerak hatinya oleh penglihatan ini hingga beliau menyusun suatu doa kepada Malaikat Agung St Mikhael,
“Malaikat Agung St. Mikhael, belalah kami dalam peperangan. Jadilah pelindung kami dalam melawan segala kejahatan dan jebakan setan. Kami mohon dengan rendah hati agar Allah menaklukkannya, dan engkau, O panglima balatentara surgawi, dengan kuasa Ilahi, usirlah ke neraka setan dan semua roh jahat yang berkeliaran di seluruh dunia yang hendak menghancurkan jiwa-jiwa. Amin.”
Pada tahun 1886, Paus Leo menginstruksikan agar doa ini didaraskan pada akhir Misa. (Ketika Paus Paulus VI menerbitkan “Novus Ordo” Misa pada tahun 1968, Doa kepada St Mikhael dan pembacaan “injil terakhir” pada akhir Misa dihapuskan.)
... namun demikian
Pada musim semi tahun 1994, Bapa Suci Yohanes Paulus II mendorong umat beriman untuk mendaraskan Doa kepada Malaikat Agung St Mikhael. Beliau juga mendesak demi dipraktekkannya kembali pendarasan doa tersebut dalam Misa Kudus. (Harap diperhatikan bahwa Bapa Suci tidak mengamanatkan pendarasan doa tersebut dalam Misa.)
Jelas, Bapa Suci bermaksud menanggapi kejahatan-kejahatan hebat yang kita lihat terjadi di dunia kita ini - dosa-dosa aborsi, eutanasia, pornografi, percabulan, penyiksaan anak, terorisme, pembantaian bangsa-bangsa tertentu dan lain sebagainya. Tak diragukan lagi, setan dan para malaikat lainnya yang memberontak sedang melakukan yang terbaik guna menjerumuskan jiwa-jiwa ke dalam neraka. Kita membutuhkan pertolongan St Mikhael.
Maka terakhir, saya hendak mengatakan...mari sesudah misa kita mendaraskan doa ini:
“Malaikat Agung St. Mikhael, belalah kami dalam peperangan. Jadilah pelindung kami dalam melawan segala kejahatan dan jebakan setan. Kami mohon dengan rendah hati agar Allah menaklukkannya, dan engkau, O panglima balatentara surgawi, dengan kuasa Ilahi, usirlah ke neraka setan dan semua roh jahat yang berkeliaran di seluruh dunia yang hendak menghancurkan jiwa-jiwa. Amin.”
atau
SANCTE Míchael Archángele, defénde nos in prœlio, contra nequítiam et insídias diáboli esto præsídium. Imperet illi Deus, súpplices deprecámur: tuque, Princeps milítiæ cæléstis, Sátanam aliósque spíritus malígnos, qui ad perditiónem animárum pervagántur in mundo, divína virtúte, in inférnum detrúde. Amen
atau
HOLY Michael Archangel, defend us in the day of battle; be our safeguard against the wickedness and snares of the devil.—May God rebuke him, we humbly pray: and do thou, Prince of the heavenly host, by the power of God thrust down to hell Satan and all wicked spirits, who wander through the world for the ruin of souls. Amen
semoga Gereja dan dunia menjadi lebih baik..... St. Michael, doakanlah kami
WARTA LINGKUNGAN
1. Koor Gabungan MDL dan MDF
Koor Gabungan MDL dan MDF diadakan dengan jadwal sbb:
- Hari/Waktu : Setiap Selasa. Pukul 20.00 (Tepat)
- Tempat : Rmh Ibu Meiliana ~ Intan 1 No. 15
Masih dibutuhan bantuan umat untuk menjadi peserta koor dan pemain keyboard.
Jadwal tugas koor MDL dan MDF :
- 30 Agustus 2009, 27 September 2009.
Untuk mengetahui informasi selengkapnya dapat menghubungi :
- Pak Jayandi ~ Intan 2 No.26 ( Telp. 5396875 – 08129557885)
2. Kegiatan Lingkungan MDL
BULAN SEPTEMBER
Bulan September yang merupakan bulan Kitab Suci maka akan diadakan Pendalaman Kitab Suci sebanyak empat kali dengan jadwal : Tanggal 2 , 7, 9, 14.
Jadwal selengkapnya akan diedarkan akhir Agustus 2009.
BULAN OKTOBER
Bulan Oktober yang merupakan bulan Rosario maka akan dilaksanakan Doa Rosario selama 9 hari berturut-turut dari tanggal 23 – 31 Oktober 2009. Direncanakan penutupan rosario akan ziarek ke Subang.
Jadwal selengkapnya akan diedarkan awal Oktober 2009.
3. Iuran Lingkungan
Pembayaran Iuran Lingkungan dapat diserahkan langsung kepada bendahara lingkungan : Ibu Liena ~ Intan 5 No. 5
4. Tugas Tata Laksana
Lingkungan MDL mendapat tugas tata laksana di gereja St. Laurensius pada tanggal 3 Oktober 2009. Dimohon bantuan Bapak/Ibu/Remaja untuk membantu tugas tata laksana.
5. Lomba Perkusi MDL dan MDF
Diinformasikan bahwa anak-anak MDL dan MDF yang ikut team perkusi telah menjadi juara pertama porseni tingkat Tangerang dan akan bertanding di KAJ pada tanggal 23 Agustus 2009. Mohon doa dan dukungan umat.
6. WKRI ranting Santa Bernadette
Telah terbentuk WK ranting Bernadette, bagi warga yang mau menjadi anggota dapat menghubungi :
Ketua WK : * Ibu Arthya ~ Intan 1 No. 30 (Telp.53121499)
Ketua Lingkungan MDL : * Bpk. Gunawan ~ Intan 7 No. 6
Salam Sejahtera,
Gunawan HP
Ketua Lingkungan
Selasa, 11 Agustus 2009
St. Laurensius (10 Agustus 2009)
"Tuan, inilah harta karun Gereja."
Jika kita sedang merasa uring-uringan terhadap sesuatu yang mengganggu kita, baiklah kita mohon bantuan St. Laurensius agar ia mendoakan kita dan membantu kita agar tetap sabar dalam menanggung pencobaan. Siapakah St. Laurensius?
Laurensius hidup pada abad ketiga. Ia adalah salah seorang dari ketujuh Diakon Roma di bawah Paus St. Sixtus II. Mereka bertugas untuk memberikan bantuan kepada fakir miskin. Pada masa itu, umat Kristiani mengalami penganiayaan hebat dalam pemerintahan Kaisar Valerian. Kaisar memerintahkan agar Paus St. Sixtus II beserta keenam diakon lainnya dijatuhi hukuman penggal, sehingga tinggallah Laurensius seorang diri. Sementara Paus digiring ke tempat hukuman mati, Laurensius mengikutinya sambil menangis, “Bapa, mengapa engkau pergi meninggalkan aku?” Paus menjawabnya, “Aku tidak meninggalkan engkau, anakku. Tiga hari lagi engkau akan bersamaku.”
Laurensius amat gembira karena ia juga akan diperbolehkan menerima piala kemartiran. Laurensius membagi-bagikan semua uang yang masih ada padanya kepada mereka yang membutuhkan. Ia bahkan juga menjual bejana-bejana berharga milik Gereja dan membagikan uangnya kepada mereka yang miskin papa.
Cornelius Saecularis, yang pada waktu itu menjabat sebagai penguasa Roma, mengira bahwa Gereja menyimpan suatu harta karun yang tersembunyi. Maka Cornelius memanggil Laurensius dan berkata kepadanya, “Aku tahu bahwa menurut ajaran kalian, kalian harus menyerahkan kepada kaisar segala milik kaisar. Allah-mu tidak membawa uang ke dunia ketika Ia datang, Ia hanya membawa ajaran-Nya. Jadi, berikanlah uangnya kepada kami, kalian boleh menyimpan ajaran-Nya.” Cornelius juga berjanji akan membebaskan Laurensius jika saja ia mau menyerahkan seluruh kekayaan Gereja kepada kaisar. Laurensius menyanggupi permintaan Cornelius. Ia minta diberi waktu tiga hari untuk mengumpulkan seluruh harta Gereja.
Maka, pergilah Laurensius menjelajahi kota selama tiga hari untuk mengumpulkan orang-orang yang sakit, fakir miskin, jompo, janda serta para yatim piatu. Pada hari yang ketiga ia membawa mereka semua ke hadapan penguasa Roma, katanya, “Tuan, inilah harta karun Gereja!”
Penguasa Roma itu menjadi sangat murka. Dalam amarahnya ia memerintahkan agar Laurensius dijatuhi hukuman mati secara perlahan dan kejam. Laurensius diikatkan pada panggangan besi raksasa yang dipanaskan di atas api yang kecil sehingga api memanggang daging tubuhnya secara perlahan-lahan. Laurensius memang terbakar, tetapi bukan oleh api, melainkan oleh rasa cinta yang amat mendalam kepada Tuhan. Oleh karena itu, Laurensius menjalani siksaannya dengan ketabahan yang mengagumkan. Tuhan juga memberinya kekuatan dan sukacita yang luar biasa, hingga Laurensius masih sempat bercanda, “Balikkan tubuhku,” katanya kepada algojo, “yang sebelah sini sudah matang!”
Kemudian, ”Ya, sudah cukup matang sekarang!” Sementara Laurensius terbaring sekarat, wajahnya memancarkan sinar surgawi. Laurensius berdoa agar penduduk kota Roma bertobat dan berbalik kepada Yesus dan semoga iman Katolik menyebar ke seluruh dunia. Usai mengucapkan doanya, Laurensius pergi menjumpai Yesus, Paus Sixtus dan semua para kudus di surga.
Keberanian serta ketabahan Laurensius menyentuh banyak orang sehingga banyak penduduk Roma yang akhirnya bertobat. St. Laurensius wafat pada tanggal 10 Agustus tahun 258. Pestanya dirayakan setiap tanggal 10 Agustus. Demi menghormatinya, Kaisar Konstantinus membangun sebuah basilika yang indah. Nama St Laurensius ada di antara para kudus Dalam Doa Syukur Agung Pertama dalam Misa.
"Yesus, tolonglah aku untuk mengasihi semua anggota keluargaku setiap hari, sehingga aku dapat mengasihi keluarga-Mu, yaitu Gereja! Amin.
“disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
-- Post From My iPhone
Jumat, 07 Agustus 2009
Friday 7 August 2009
Friday of week 18 of the year
or Saints Sixtus II, Pope, and his Companions, Martyrs
or Saint Cajetan, Priest
About Today
Pope St Sixtus II and his companions
Pope Sixtus II or Pope Saint Sixtus II was pope from August 30, 257 to August 6, 258. He died as a martyr during the persecution by Emperor Valerian.
According to the Liber Pontificalis, he was Greek by birth; however this is uncertain and disputed by modern western historians arguing that the authors of Liber Pontificalis confused him with that of the contemporary author Xystus who was Greek student of Pythagoreanism. He restored the relations with the African and Eastern Orthodox churches which had been broken off by his predecessor on the question of heretical baptism.
In the persecutions under Emperor Valerian I in 258, numerous bishops, priests, and deacons were put to death. Pope Sixtus II was one of the first victims of this persecution, being beheaded on August 6. He was martyred along with six deacons—Januarius, Vincentius, Magnus, Stephanus, Felicissimus and Agapitus. He and his companion-martyrs are commemorated with an optional memorial on 7 August. St Laurence, another deacon, was captured and executed four days later.
St Cajetan (1480 - 1547)
He was born in Vicenza and became a priest at the age of 36. He worked hard for the poor and the sick and for the reform of the Church; with this last aim in mind, he founded a congregation of secular priests which became known as the Theatines. These had three functions: preaching, the administration of the sacraments, and the celebration of the liturgy.
He encouraged the growth of pawn-shops as a means of helping the poor out of temporary financial difficulties and keeping them out of the hands of usurers. His congregation also cared for incurable syphilitics (a particularly virulent form of syphilis was sweeping Europe, having been imported from the Caribbean by Columbus’s men).
His example encouraged many others on the path to active sanctity. He said [in a letter to Elisabeth Porto]: “Do not receive Christ in the Blessed Sacrament so that you may use him as you judge best, but give yourself to him and let him receive you in this Sacrament, so that he himself, God your saviour, may do to you and through you whatever he wills.”
-- Post From My iPhone
Kamis, 06 Agustus 2009
Doa Hari Kamis, 6 Agustus 2009
Bapa Surgawi,
kirimkanlah RohMu untuk menerangi pikiranku,
untuk mengenal hal yang benar dan hal yang salah.
Bantulah aku menyadari jika ada kebohongan
dan bantulah pula aku mengenal kebohongan
yang kulakukan terhadap diriku sendiri.
Engkau selalu berbicara yang sebenarnya
dan Engkau menyatakan manakah yang benar
dan manakah yang salah.
Saat dunia menyatakan sebuah gaya hidup
atau sistim kepercayaan sebagai sesuatu yang baik,
dan Engkau menyatakannya sebagai sesuatu yang jahat,
bantulah agar aku dapat tetap bertahan
di atas kebenaranMu yang suci
yang kutemukan di dalam Kitab Suci.
Anugrahkanlah aku pendirian yang kuat
walaupun tak ada orang yang setuju denganku.
Kebenaran menurut dunia ini
dapat berubah sesuai arah angin
namun Kebenaran dariMu adalah kekal selama - lamanya,
dan aku bertekad akan selalu berpegang
kepada kebenaranMu ya Bapa.
Hanya kepadaMu ya Bapa Surgawi,
Allah yang kekal, aku berdoa.
Amin.
-- Post From My iPhone
Selasa, 04 Agustus 2009
August 4 - The Day of St. Jean-Baptiste Vianney
St Jean-Baptiste Vianney, Curé of Ars (1786 - 1859)
He was the son of a peasant farmer, and a slow and unpromising candidate for the priesthood: he was eventually ordained on account of his devoutness rather than any achievement or promise.
In 1818 he was sent to be the parish priest of Ars-en-Dombes, an isolated village some distance from Lyon, and remained there for the rest of his life because his parishioners would not let him leave. He was a noted preacher, and a celebrated confessor: such was his fame, and his reputation for insight into his penitents’ souls and their futures, that he had to spend up to eighteen hours a day in the confessional, so great was the demand. The tens of thousands of people who came to visit this obscure parish priest turned Ars into a place of pilgrimage.
The French State recognised his eminence by awarding him the medal of the Légion d’Honneur in 1848, and he sold it and gave the money to the poor.
-- Post From My iPhone
Minggu, 14 Juni 2009
Minggu, 14 Juni 2009 HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS/ Tahun B

Minggu, 14 Juni 2009
HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS/ Tahun B
"Ambillah, inilah tubuh-Ku."
“Yang akan menerima Ekaristi mahakudus, hendaknya berpantang dari segala macam makanan dan minuman selama waktu sekurang-kurangnya satu jam sebelum komuni, terkecuali air semata-mata dan obat-obatan” (KHK kan 919.1). Maksud dari hukum atau aturan ini kiranya adalah bahwa setiap kali akan berpartisipasi di dalam Perayaan Ekaristi serta menyambut Tubuh Kristus atau menerima komuni kudus hendaknya diadakan persiapan yang memadai. Jika dicermarti kebanyakan umat di kota-kota besar nampak kurang ada persiapan dalam rangka berpartisipasi dalam Perayaaan Ekaristi, bahkan cukup banyak yang datang terlambat; sebaliknya di pedesaan cukup banyak umat datang lebih awal dan kemudian berdoa didalam gereja, antara lain berdosa rosario . Maka dalam rangka merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus hari ini saya mengajak anda sekalian untuk berrefleksi atau mawas diri perihal keterlibatan kita dalam Perayaan Ekaristi serta menyambut komuni kudus.
"Ambillah, inilah tubuh-Ku…Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang.”
“Perayaan Ekaristi adalah tindakan Kristus sendiri dan Gereja; di dalamnya Kristus Tuhan, melalui pelayanan imam, mempersembahkan diri-Nya kepada Allah Bapa dengan kehadiranNya secara substansial dalam rupa roti dan anggur, serta memberikan diriNya sebagai santapan rohani kepada umat beriman yang menggabungkan diri dalam persembahan-Nya” (KHK kan 899.1).
Tata Perayaan Ekaristi terdiri dari atau meliputi: (1) Ritus Pembuka, (2) Liturgi Sabda, (3) Liturgi Ekaristi dan (4) Ritus Penutup, maka baiklah saya sampaikan secara sederhana arti, makna atau maksud dari setiap bagian tersebut:
(1) Ritus Pembuka. Di dalam pembukaan kita diajak untuk menyadari dan menghayati kelemahan, kerapuhan dan dosa-dosa kita yaitu dengan doa Tobat. Maka baiklah dalam bagian pembukaan ini kita mengenangkan aneka macam janji yang telah kita ikrarkan: sejauh mana kita setia dan taat pada janji-janji tersebut. Sebagai contoh adalah janji baptis, dimana kita pernah berjanji ‘hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja dan menolak semua godaan setan’. Marilah kita memeriksa batin atau hati kita masing-masing: apakah semakin cenderung mengabdi Tuhan Allah atau mengikuti godaan setan. Jika ada kesalahan dan dosa-dosa dalam diri kita marilah bertobat atau memperbaharui diri dengan bantuan kasih pengampunan Tuhan. Salah satu usaha untuk bertobat atau memperbaharui diri antara lain kita dapat mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan yang akan dibacakan maupun dikotbahkan dalam Liturgi Sabda.
(2) Liturgi Sabda. Dalam bagian ini kepada kita dibacakan sabda Tuhan sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci, yang ditulis dalam dan oleh ilham Roh. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2Tim 3:16 ). Di dalam bagian ini kiranya apa yang diharapkan dari kita semua adalah ‘mendengarkan’ (bukan mendengar). Agar kita dapat mendengarkan sabda Tuhan dengan baik, hendaknya bersikap rendah hati, membuka hati, jiwa, pikiran dan tubuh terhadap apa yang disabdakan oleh Tuhan. Jika kita sungguh dapat dengan rendah hati mendengarkan sabda Tuhan, maka kita akan tergerak untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, yang dalam Perayaan Ekaristi ini diberi kesempatan untuk mewujudkannya dalam bentuk persembahan harta benda/uang maupun doa-doa; kita siap untuk memasuki Liturgi Ekaristi.
(3) Liturgi Ekaristi. Liturgi Ekaristi terdiri dari tiga bagian: Persiapan Persembahan, Doa Syukur Agung dan Komuni. Di dalam persembahan kita persembahkan bersama uang/kolekte, hasil jerih payah kita atau hasil bumi (bunga atau buah), doa-doa permohonan serta roti dan anggur. Dalam memberi persembahan uang atau kolekte hendaknya kita meneladan janda miskin yang memberi persembahan dari kekurangannya bukan kelebihannya. Di dalam doa permohonan selain yang telah disiapkan oleh Panitia Luturgi sebagaimana tertulis dalam buku Liturgi juga dapat ditambahkan ujud atau intensi umat. Persembahan roti dan anggur akan menjadi bahan untuk mengenangkan perjamuan malam dimana Yesus memberikan diri-Nya/tubuh dan darah-Nya dalam rupa roti dan anggur. Roti dan anggur dikonsekrasikan dalam Doa Syukur Agung oleh imam menjadi tubuh dan darah Kristus. Dalam upacara Komuni “setiap orang yang telah dibaptis dan tidak dilarang oleh hukum, dapat dan harus diizinkan untuk menerima komuni suci” (KHK kan 912). Dengan menerima komuni suci berarti kita disatukan dengan Yesus Kristus, dan dengan demikian kita juga diutus untuk mewartakan Kabar Baik di dalam hidup sehari-hari kita. Tugas pengutusan ini kita ikuti didalam Ritus Penutup. .
(4) Ritus Penutup. Didalam Ritus Penutup ini antara lain kita menerima berkat Tuhan serta tugas pengutusan. “Marilah pergi! Kita diutus”, demikian ajakan imam, pemimpin ibadat dan kita jawab “Amin”, yang berarti kita dengan positif menyutui ajakan tersebut serta akan melaksanakan tugas pengutusan dalam hidup sehari-hari. Tema atau bahan tugas pengutusan kiranya dapat diambil dari bacaan Sabda Tuhan/Kitab Suci atau bahan renungan/kotbah pengkotbah, yang telah disampaikan dalam Perayaan Ekaristi yang kita ikuti.
“Jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup” (Ibr 9:13-14)
Dengan menerima komuni suci kita dipanggil untuk “menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia” dalam dan melalui aneka kesibukan, pelayanan, pekerjaan kita sehari-hari dimanapun dan kapanpun, “beribadah kepada Allah yang hidup”. Mayoritas waktu dan tenaga kita setiap hati untuk mendunia, berpartisipasi dalam aneka macam seluk-beluk duniawi. Hendaknya kita tidak melakukan apa-apa atau segala sesuatu yang sia-sia, yang semakin menjauhkan diri kita dari Tuhan, Marilah kita senantiasa melakukan apa yang baik dalam hidup mendunia, karena dengan dan melalui perbuatan baik hati naruni kita juga semakin disucikan, dijernihkan serta dicerdaskan, sehingga kita semakin cerdas secara spiritual.
“Beribadah kepada Allah yang hidup” dalam hidup sehari-hari itulah panggilan kita, yang berarti entah belajar atau bekerja kita hayati bagaikan beribadah, belajar dan bekerja adalah ibadah kepada Allah. Jika belajar atau bekerja sebagai ibadah kepada Allah berarti rekan kerja atau belajar adalah rekan beribadah, sarana-prasarana belajar atau bekerja adalah sarana-prasarana ibadah, suasana adalah suasana ibadah. Sikap hormat, sopan, hening, serius dan bersama-sama itulah yang terjadi selama beribadah, maka sikap yang sama hendaknya juga terjadi baik dalam belajar maupun bekerja. Karena kita telah makan ‘roti yang satu dan sama’ yaitu tubuh Kristus, maka kita semua disatukan dalam Kristus, sehingga kita hidup dalam persaudaraan atau persahabatan sejati, saling menghormati, memuji, memuliakan dan melayani.
Ignatius Sumarya, SJ
Catatan: Renungan ini diambil dari
http://renunganpagi.blogsp
Selasa, 09 Juni 2009
Karikatur Sadar Liturgi
Sabtu, 06 Juni 2009
Pendaftaran Lektor Baru
Rabu, 27 Mei 2009
Email dari Pastor Stasi kita
Para Saudara dan Saudari yang terkasih, pemberkatan gereja stasi St. Laurensius melalui tangan Bapak Uskup Agung kita, sudah terselenggara. Rasa syukur pantas kita lambungkan kepada Allah yang telah menganugerahkan peristiwa penuh rahmat kepada seluruh umat stasi St. Laurensius. Terima kasih kepada PPG, Dewan Stasi, Para Pengurus Lingkungan dan Wilayah, Kelompok Kategorial, Panitia Pemberkatan Gereja, dan para Donatur yang telah bekerjasama, bahu membahu untuk terselenggaranya upacara penuh syukur ini. Terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh umat Stasi St. Laurensius yang setia, sabar, tekun, dan penuh tanggung jawab secara aktif turut serta dalam proses pembangunan dan upacara pemberkatan gedung gereja ini. Dengan caranya masing-masing, Anda semua telah ikut berperanserta mewujudkan gereja stasi kita tercinta ini. Dalam upacara pemberkatan saya mendengar keluhan-keluhan dari umat, tentang tempat duduk dan konsumsi. Dalam hal ini kita memposisikan diri sebagai tuan rumah.Tuan rumah yang baik tentu kita mendahulukan para tamu undangan kita. "Kok umat stasi sendiri malah dapat tempat duduk di luar atau di aula, sementara bangku gereja penuh dengan undangan" demikian kira-kira yang kita dengar. Yang jelas umat stasi St. Laurensius-lah yang akhirnya menggunakan gereja ini. Pepatah mengatakan "Tak ada gading yang tak retak". Dalam peristiwa hidup pasti ada kelebihan ada juga kekurangan. Demikian juga dengan bangunan gereja kita. Ada beberapa umat yang berkeluh kesah tentang bentuk ideal dan sarana publik yang ada. "Maunya ada wc di atas, maunya ada ini dan itu...." Berbagai macam harapan tersebut, saya anggap sebagai suatu bentuk kepedulian yang positif dari umat. Untuk saat ini, saya mohon kepada seluruh perangkat dan umat yang ada di stasi St. Laurensius: *"Inilah Gereja Anda semua. Milik kita bersama. Terimalah dengan penuh syukur, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada di dalamnya"*. Ada sementara ini, beberapa paroki di KAJ, sampai saat ini masih kesulitan untuk membangun gereja. Sebut saja paroki St. Agustinus di Perum Karawaci sebagai cikal bakal Paroki St. Monika, St. Odilia, St. Helena, dan stasi St. Laurensius. Mereka belum punya gedung gereja karena perijinannya dihambat terus. Bahkan stasi St. Ambrosius sendiri yang akan membangun gerejanya di perumahan Villa Melati Mas, sampai saat ini masih terkendala oleh penolakan penduduk setempat. Paroki tetangga kita, St. Bernadet, Ciledug, masih berpindah-pindah tempat untuk misa mingguan dan harus sewa tempat/gedung. Ketua Lingkungan St. Mikael, Bapak Justinus Juwono dalam milis dewan pleno menyampaikan pesan berikut:/ "Mudah-mudahan kita semua dapat menjaga gedung gereja kita dengan ikut berpartisipasi menjaga kebersihan ruangan-ruangan yang ada dan terutama bila kita menggunakan toilet, karena kita biasanya bisa membangun akan tetapi tidak dapat memeliharanya/ /Kebersihan lingkungan gereja adalah tanggung jawab kita bersama dan tidak bisa semata-mata menjadi tanggung jawab Dewan Stasi, untuk itu marilah kita sosialisasikan masalah kebersihan ini kepada umat di Lingkungan kita masing-masing. .."/ Saya kira pendapat ini benar adanya. Marilah kita bertanggung jawab atas milik kita bersama ini. Masih ada pekerjaan lain yang kita hadapi yaitu gedung karya pastoral dan pastoran. Semoga ini juga tetap menjadi perhatian kita bersama. Tentu sebagai gembala umat saya, bersama para pengurus di stasi Laurensius, tidak akan melupakan proses pembangunan jemaat di stasi ini. Ada visi-misi yang besar dan penting untuk kita wujudkan bersama, seperti yang tertuang dalam visi - misi KAJ; membangun dan mengembangkan Gereja Katolik di Keuskupan Agung Jakarta menjadi umat yang semakin setia sebagai murid-murid Yesus dalam menanggapi Kabar Gembira keselamatan- Nya dan semakin setia sebagai saksi dan utusan-Nya di mana pun kita hidup dan bekerja. Memberdayakan lingkungan teritorial paroki dan kelompok kategorial agar menjadi umat basis yang semakin berkualitas dalam hal: *Iman *yang berpusat dalam perayaan Ekaristi, diperdalam dengan pendalaman sabda Tuhan dan ajaran Gereja, dihayati dalam penerimaan sakramen-sakramen. *Persaudaraan* : makin dibangun ke dalam (antar sesama orang beriman) dan makin inklusif (dengan tetangga se-RT/RW) dengan kesadaran bahwa kita adalah saudara sesama ciptaan Tuhan dan sesama sebangsa-setanah air. *Pelayanan*: dengan tulus peduli pada mereka yang miskin dan terpinggirkan di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi sehingga kehadiran Gereja Katolik memberi makna bagi sesama, terutama yang menderita. Dengan strategi Pastoral Gembala yang Baik. Maaf, tulisan ini mungkin terlalu panjang untuk menyita waktu Anda semua. Mari kita bergandeng tangan mengembangkan karya Allah dalam kehidupan kita. Selamat berkarya. Tuhan memberkati Anda semua. salam nono
Sabtu, 23 Mei 2009
Rabu, 20 Mei 2009
Usulan Kegiatan Bersama (1)
Dimana terdengar suara gemericik air dari aliran sungai dilingkungi dengan tatanan asri taman berisi berbagai tumbuhan tempat kita bisa menikmati suasana doa yang khusuk dan hening, ya, kita bisa ber Ibadat Jalan Salib dan berdoa di Gua Maria Ratu Damai yang tanggal 16 September 2006 diberkati oleh Pastor Julianus Puryanto, SCJ. Area ini termasuk dalam wilayah Paroki St. Barnabas Rasul - Pamulang, Dekenat Tangerang, Keuskupan Agung Jakarta. Patung Bunda Maria dipahat dari batu alam oleh seniman dari Muntilan Jawa Tengah.
Gua Maria Ratu Damai berada dalam kawasan yang dikelola oleh Yayasan Bina Bhakti dengan alamat: Kp. Curug Rt 02/Rw 01, Desa Babakan, Serpong - Tangerang 15315, telpon 021-7566439. Bunda Maria juga mendampingi dan hadir ditengah-tengah para orang tua yang tinggal di Panti Werdha Bina Bhakti. Panti Werdha ini diselenggarakan mulai September 1986 yang dipimpin oleh Sr.Rina Ruigok, BKK dibantu oleh Sr.Regina, BKK (BKK = Biarawati Karya Kesehatan) dengan kapasitas 60 orang, tetapi dalam kenyataannya selalu dihuni 65-70 orang. Saat ini dikelola oleh suatu team pengelola yang terdiri dari beberapa orang, diantaranya Ibu Agnes Agustini yang menemani kami berkeliling kawasan ini dan menjelaskan berbagai hal pada tanggal 10 Februari 2009.
Lokasi ini relatif mudah dicapai dari berbagai arah yaitu, jalan raya Parung Bogor atau Jalan Tol Jakarta Merak (keluar di BSD ~ Bumi Serpong Damai) atau jalan tol JORR - Serpong (keluar BSD). Kita menuju Taman Tekno Serpong, Kampus ITI dan Perumahan Puri Serpong II. Jalan masuknya dekat papan nama perumahan Bukit Dago yang diportal, sehingga bila akan datang menggunakan bis besar sebaiknya berkoordinasi terlebih dahulu dengan team pengelola.
Selain itu, di kawasan Bina Bhakti ini terdapat juga Kapel yang dilengkapi perhentian Ibadat Jalan Salib dan Gua Maria. Untuk rombongan peziarah yang ingin merayakan ekaristi, sebaiknya 1 bulan sebelumnya memberitahukan kepada team pengelola sehingga bisa dicarikan pastor untuk memimpin Misa.
Per Mariam Ad Yesum
Selasa, 19 Mei 2009
Info Link Kitab Suci Katolik
Bagi yang membutuhkan Kitab Suci Katolik (73 kitab) On-line, dapat mengakses di http://www.imankato
Sabtu, 16 Mei 2009
There is Probably NO GOD



